Saturday, August 12, 2017

19 Frater SVD Akan Ikrarkan Kaul Kekal


Seminariledalero.org
Sebanyak 19 frater akan mengikrarkan kaul kekal kebiaraan dalam kongregasi Serikat Sabda Allah pada Selasa (15 Agustus 2017), pukul 16.00 Wita. Perayaan pengikraran kaul kekal akan berlangsung di Aula St. Thomas Aquinas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dengan bernaung di bawah tema “Siapakah aku ini?” dengan teks biblisnya Lukas 1:4.
Perayaan Ekaristi pengikraran kaul kekal yang akan dipimpin langsung oleh Provinsial SVD Ende Pater Lukas Jua, SVD, turut dimeriahkan anggota koor dan petugas liturgi lainnya oleh para Frater Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.
Menyongsong perayaan puncak pengikraran kaul kekal seluruh anggota komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero mengadakan berbagai persiapan mulai dari persiapan liturgi hingga pembersihan kompleks Seminari. Seluruh kegiatan persiapan dikoordinasi langsung oleh masing-msing ketua seksi yang telah dirancang oleh panitia perayaan kaul kekal.
Ketua panitia perayaan kaul kekal 2017, Fr. Ronan Limahekin, SVD mengatakan bahwa dirinya bersama segenap anggota panitia kaul kekal telah melakukan dua kali pertemuan demi melihat perkembangan persiapan menyongsong perayaan kaul kekal. “Saya dan segenap anggota panitia kaul kekal 2017 sudah melakukan dua kali pertemuan. Pertemuan pertama terjadi pada Senin (15 Mei 2017) dengan agendanya adalah pembagian penanggungjawab seksi-seksi. Setelah pertemuan pertama, saya memberikan kesempatan kepada setiap penanggungjawab seksi-seksi untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Sementara itu pertemuan kedua terjadi pada Kamis (10 Agustus 2017) dengan agendanya adalah melakukan pengecekan terhadap persiapan dari masing-masing seksi. Dan dari pertemuan kedua yang sudah dibuat, saya mendapat hasih bahwa persiapan dari masing-masing seksi  sudah mencapai tahap akhir,” kata Fr. Ronan Limahekin, SVD.
19 frater yang akan mengikrarkan kaul kekal, yaitu: Fr. Bao Kumanireng Stefanus, SVD, Fr. Bau Mali,Simplisius Rosan, SVD, Fr. Beo, Lukas Elminaldo, SVD, Fr. Bnani Benediktus, SVD, Fr. Demo Bakang, Kamilus, SVD, Fr. Ebang Rebon Yos Angelikus, SVD, Fr. Lehan Tommy Nofriyanto, SVD, Fr. Lengi Hironimus Emilianus, SVD, Fr. Leo Krispianus Watu Manu, SVD, Fr. Mere Veto Yanuartri Servinus, SVD, Fr. Moan Jawa Wempianus, SVD, Fr. Nairale Silvanus, SVD, Fr. Raydais Beny Ardyal, SVD, Fr. Reldi Inosentius, SVD, Fr. Sa’u Sebastianus, SVD, Fr. Semau Riberu Yohanes, SVD, Fr. Tage Arnoldus Alexandro, SVD, Fr. Tober Pridensius, SVD, dan Fr. Ubaama Moron Aloysius, SVD.
Pada hari yang bersamaan (Selasa, 15 Agustus 2016), pukul 06.00 pagi, para frater berkaul sementara akan membarui kaul-kaul kebiaraan mereka dalam perayaan ekaristi yang berlangsung di unit masing-masing. Misa pembaruan kaul ini akan dipimpin oleh staf prefek unit masing-masing. 

Penulis: Frater Fridus Talan, SVD

Tuesday, June 13, 2017

21 Diakon Ditahbiskan di Ledalero

18 SVD dan 3 MSsCc

seminariledalero.org - 21 frater ditabhiskan menjadi diakon dalam perayaan ekaristi di Kapel Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Senin (12/6/2017) pagi. Ke-21 diakon yang terdiri dari 18 anggota SVD dan 3 anggota MSsCc ini dengan lantang menyatakan komitmen pelayanan mereka di hadapan uskup pentahbis Mgr. Frans Kopong Kung, Pr – Uskup Larantuka.
Hadir dan mendampingi Uskup Frans dalam perayaan bertema “Berbahagialah yang Murah Hati” ini Provinsial SVD Ende Pater Lukas Jua SVD, Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Pater Kletus Hekong SVD, Prefek Koordinator Pater Ito Dhogo SVD, Ketua STFK Ledalero Pater Bernard Raho SVD dan puluhan imam konselebran lainnya. Pada panti umat tampak hadir orangtua dan kerabat para diakon, para biarawan dan biarawati serta ratusan umat.
Sebagaimana disaksikan Flores Pos, upacara khusus tahbisan dimulai seusai pembacaan Injil. Provinsial SVD Ende Pater Lukas Jua SVD memanggil nama ke-21 diakon lalu memohon kepada uskup pentahbis agar mereka diperkenankan untuk ditahbiskan. Setelah itu, uskup menyampaikan homili yang dikuti dialog dengan para calon diakon terkait komitmen mereka untuk menjalankan hidup selibat dan kesetiaan menerima tugas diakon.
Kemudian, para calon diakon maju satu per satu dan menyampaikan janji setia mereka kepada uskup. Momen-momen khusyuk terjadi ketika calon diakon tiarap dan umat menyanyikan litani para kudus. Upacara khusus tahbisan ini berakhir setelah uskup menumpangkan tangan di atas kepala calon diakon, pengucapan doa tahbisan, pengenaan stola dan dalmatik serta penyerahan Injil dan buku Ibadat Harian.
Setelah upacara khusus tahbisan selesai, dua diakon tertahbis, Diakon Geby Akhir SVD dan Diakon Sensi Balu SVD, mendapat kesempatan untuk mendampingi Uskup Frans di meja altar. Kedua diakon ini memulai tugas mereka sebagai pelayan resmi altar Tuhan.

Murah Hati 
Uskup Frans pada homilinya secara khusus menekankan aspek kemurahan hati dalam karya pelayanan para diakon. Menurut Uskup Frans, seorang diakon hendaknya selalu bermurah hati membagikan cinta Allah kepada sesama ciptaan. Semakin banyak ia berbagi cinta dan kemurahan, semakin banyak pula rahmat yang akan ia terima dari Allah.
“Kemurahan hati seorang pelayan tidak terpaku pada aturan dan program-program. Ia mesti terus mengalir, tak kenal batasan waktu, usia, atau jabatan. Kemurahan hati hendaknya menjadi spiritualitas kehidupan yang menggugah dan menggerakkan orang,” katanya.
 Uskup Frans pun menyitir pernyataan Paus Fransiskus yang mengajak para gembala umat untuk sungguh-sungguh menjadi gembala yang berbau domba. “Jangan menjadi pastor atau diakon yang berbau kamar, berbau rokok, atau berbau moke,” tegasnya.
Pada bagian lain homilinya, Uskup Frans menegaskan kepada seluruh umat tentang betapa istimewanya tugas pelayanan seorang diakon. Meskipun semua orang bisa menjadi pelayan, keistimewaan pelayanan yang diberikan seorang diakon adalah kesediaan dia untuk mengalami penderitaan salib.
“Pelayanan seorang diakon menjadi istimewa karena mendapat nilai di dalam salib Tuhan. Karena itu, kalau belum mengalami derita salib, jangan pernah bilang bahwa kalian sudah melayani secara sungguh. Mengalami salib dan teguh bertahan di dalamnya, menjadi kekhasan karya pelayanan seorang diakon,” tegasnya.
Uskup Frans juga mengajak para diakon untuk menjalankan tugas pelayanan mereka dengan rendah hati, penuh rasa syukur dan sukacita. “Belajarlah untuk terus bergembira saat situasi menuntut kalian untuk berkorban. Meskipun banyak derita, kalian hendaknya tetap bersemangat, bersukacita”.

Pentingnya Doa dan Firman 
Sementara itu, Provinsial SVD Ende Pater Lukas Jua SVD dalam kata sambutannya pertama-tama mengucapkan terima kasih kepada uskup pentahbis, Komunitas Ledalero dan Komunitas MSsCc dan para orangtua, yang sudah mendampingi para diakon. Pater Lukas juga mengucapkan proficiat kepada para diakon yang sudah menjawabi panggilan Tuhan untuk melayani meja kaum miskin dan meja sabda Allah.
“Seperti ditegaskan Uskup Frans, kemurahan hati menuntut semangat pengorbanan. Orang yang sungguh-sungguh bermurah hati tidak akan takut mengorbankan dirinya demi kepentingan orang lain. Dia akan tetap bahagia dalam pengorbanannya, bersukacita dalam penderitaannya,” kata Pater Lukas.
Menurut Pater Lukas, dasar dari sikap ini adalah ketekunan dalam doa dan kesetiaan untuk merenungkan Sabda Tuhan. Kesibukan bersama umat di paroki-paroki, kata Pater Lukas, hendaknya tidak menghilangkan waktu doa dan baca Kitab Suci dari para diakon.

Terima Kasih dan Harapan        
Diakon Wawan Lianain SVD dalam kata sambutannya mewakili teman-temannya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang dengan cara masing-masing sudah mendukung mereka menjawabi panggilan Tuhan. Diakon Wawan berharap perjalanan panggilan mereka senantiasa terus didukung dan didoakan oleh para imam, biarawan, biarawati, orangtua serta seluruh umat.
Turut ditahbiskan bersama Diakon Wawan Lianain SVD, Diakon Gabriel Akhir SVD, Diakon Vinsensius Balu SVD, Diakon Leonito de Jesus Leto SVD, Diakon Adrianus Fani SVD, Diakon Vinsensius Ferer Dede SVD, Diakon Theobaldus Jewarut SVD, Diakon Maternus Kehi SVD, Diakon Hilarius Debrito Laja Rebo SVD, Diakon Fransiskus Paskalis Leton SVD, Diakon Marselinus Antoni Lewo Keda SVD, Diakon John Audin Ferdianto Nabi SVD, Diakon Petrus Pati Bin Antonius SVD, Diakon Hendrikus Seko Duru SVD, Diakon Wendelinus Sowe Teluma’s SVD, Diakon Kristoforus Suhardi SVD, Diakon Romanus Thomas SVD dan Diakon Adryanus Uskenat SVD. Sedangkan dari Tarekat MSsCc adalah Diakon Lorensius Nggo’u MSsCc, Diakon Raimundus Ome MSsCc dan Diakon Severinus Yoleng MSsCc. ***


Oleh Fr.Giovanni Rante, SVD






Tuesday, May 16, 2017

Frater Tingkat II Eksposur di Paroki Boganatar

seminariledalero.org - Frater-frater tingkat II Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero mengadakan kegiatan eksposur di Paroki St. Yohanes Pemandi Boganatar. Eksposur kali ketiga yang diikuti oleh 44 frater ini berlangsung selama dua hari, terhitung sejak Jumat (12 Mei 2017) hingga Minggu (14 Mei 2017).

Dalam acara penyambutan di pusat paroki, Pater Ferdi Mikel SVD selaku Pastor Kepala Paroki Boganatar, didampingi anggota dewan paroki dan umat menerima para frater dengan ramah. Sebagai awal kata dan awal perjumpaan, Pater Ferdi memperkenalkan situasi Paroki St. Yohanes Pemandi Boganatar.
“Paroki Boganatar didirikan pada tahun 1950. Paroki ini terdiri dari 62 KBG yang tersebar di 15 stasi yakni Stasi Bubuk, Kolit, Ojang, Tanabae, Dungan, Ekko, Kringa, Boganatar, Ogolidi, Natagahar, Natarmude, Hikong, Natakoli, Watutena dan Buhegahar,” katanya.
Ketua Angkatan Frater tingkat II, Frater Simon Evodius Siga SVD menerangkan sebanyak 44 frater tingkat II terlibat aktif dalam kegiatan ini.
“Frater-frater tingkat II secara keseluruhan berjumlah 48 orang. Namun yang terlibat dalam kegiatan eksposur kali ini hanya 44 frater,” kata frater yang disapa Vody ini..
Frater Vody melanjutkan, dalam kegiatan eksposur ini ada beberapa kegiatan yang diselenggarakan, yakni “doa Rosario bersama umat di KBG, kunjungan ke sekolah-sekolah baik SD maupun SMP, dan katekese tentang HIV/AIDS dan Human Trafficking (perdagangan orang)”.
Pater Ferdi Mikel SVD ketika dimintai kesan dan pesannya sebelum melepaskan para frater tingkat II untuk kembali ke Ladalero, mengatakan dirinya sangat berterimakasih atas kunjungan yang telah dilakukan di paroki yang ditanganinya.
“Saya mengucapkan terima kasih untuk frater-frater tingkat II dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero atas kunjungan yang sudah dibuat di sini. Saya dan segenap umat di paroki Boganatar sungguh sangat merasa senang dan gembira atas kunjungan ini. Dengan program ini atau program pembentukan, frater-frater tentu bisa belajar lebih banyak lewat kegiatan-kegiatan yang sudah dibuat dan sesungguhnya untuk menjadi seorang misionaris sejati harus memulai dari hal-hal seperti ini,” katanya.
Pater Ferdi menambahkan harapannya akan kegiatan yang telah terlaksana ini, yakni “kegiatan seperti ini harus terus dijalankan, dilanjutkan supaya memberikan bekal untuk frater-frater dalam kehidupan di masa yang akan datang”. 
Sementara itu, Adolfus Rede selaku tokoh penasihat umat ketika dimintai kesannya atas katekese yang sudah dibawakan oleh para frater, dirinya merasa bahwa katekese yang sudah dibawakan adalah suatu rejeki bagi dirinya dan untuk semua umat.
“Saya dan umat merasakan bahwa katekese yang sudah dibawakan khususnya tentang human trafficking adalah suatu rejeki bagi kami karena selama ini anak-anak kami sudah menjadi korban dan bahkan sampai sekarang ada anak putri kami yang hilang kabar, entah di mana keberadaanya. Kami ucapkan terima kasih atas informasi yang frater-frater bawakan,” tegasnya.
Frater Selestinus Gaspar Nebon Botoor SVD ketika dimintai keterangan atas kegiatan eksposur yang sudah ia ikuti, dirinya sangat bersyukur atas semua kegiatan yang dilaksanakan karena ada banyak pengalaman yang didapat.
“Saya sangat bersyukur atas kegiatan yang sudah dibuat mulai dari doa Rosario, katekese, kerja bakti dan mendampingi anak-anak Sekami. Banyak pengalaman yang saya dapat dan yang sangat terkesan adalah bagaimana saya harus terlibat aktif bersama umat dalam kegiatan gotong-royong mengetam padi di kebun. Di sini saya belajar tentang hidup bersama, hidup sebagai seorang petani dan masih ada banyak pengalaman yang menjadi inspirasi bagi diri dan panggilan hidup selanjutnya,” ungkapnya.


Penulis: Frater Frids Talan, SVD

Monday, May 8, 2017

Frater Unit Agustinus Rayakan Minggu Panggilan di Panti Asuhan

Anak-anak panti sedang membawakan
sebuah tarian modern
di hadapan para frater Ledalero.
Seminariledalero.org - Para frater Unit St. Agustinus Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero merayakan Hari Minggu Panggilan Sedunia (7/5/2017), di Panti Asuhan St. Aloysius Maumere. Dalam kunjungan ke lembaga yang dikelola para suster ALMA tersebut, frater-frater merayakan ekaristi, rekreasi dan santap siang bersama penghuni panti. Ketua Unit St. Agustinus Frater Mando Labetubun SVD menjelaskan, kegiatan yang dijalankan  pihaknya ini merupakan program bersama seluruh anggota unit. Luhurnya panggilan hidup membiara, kata dia, ingin dirayakan pihaknya dalam kebersamaan dengan anak-anak panti asuhan.
Frater rela menjadi peragawan
dalam acara rekreasi bersama.
“Sebagai calon imam dan misionaris SVD, jiwa dan raga kami ditempa untuk selalu berpihak pada kaum kecil dan telantar. Adik-adik yang menghuni Panti Asuhan St. Aloysius, dalam pandangan kami, juga adalah bagian dari kelompok terpinggirkan itu,” kata Frater Mando.
Menurut Frater Mando, kegiatan ini sekaligus menegaskan makna panggilan hidup para frater sebagai calon imam dan misionaris SVD. Berbagi kisah dan kasih dengan penghuni panti diyakini mampu melecut semangat para frater untuk semakin mendekatkan diri kepada kaum pinggiran.
Menanggapi kegiatan tersebut, Kepala Panti Asuhan St. Aloysius Maumere Suster Veronika Witin, ALMA menyatakan syukur, terima kasih dan harapan. Menurut Suster Veronika, kunjungan para frater menjadi tanda dukungan SVD
Pater Yosep Kusi SVD (tengah, kemeja putih)
bernyanyi dan menari bersama anak-anak panti.
bagi karya kerasulan ALMA.
Perayaan Ekaristi bersama
“Kami berharap agar SVD tetap konsisten memperjuangkan nasib kaum kecil dan terpinggirkan. Perjuangan itu hendaknya tidak sebatas seruan-seruan profetis, melainkan dikerjakan secara nyata di tengah kehidupan bersama,” katanya.Suster Veronika menginformasikan, Panti Asuhan St. Aloysius melayani dua kelompok kategori yakni anak telantar dan kaum difabel. Saat ini anak-anak panti berjumlah 48 orang, dengan perincian 28 putri dan 20 putra. Anak-anak ini didampingi 5 suster ALMA dan beberapa pembina awam.


Frater-frater bernyanyi saat perayaan Ekaristi.
Aneka Kegiatan
Sehari sebelumnya, Sabtu (6/5/2017), para frater mengadakan kerja bakti berupa pembersihan kebun Panti Asuhan St. Aloysius. Kerja bakti tersebut diadakan sore hari, sejak pkl. 15.30 Wita sampai pkl. 17.30 Wita.
Perayaan ekaristi Hari Minggu Panggilan Sedunia, (7/5/2017) pagi, dipimpin Prefek Unit St. Agustinus Pater Yosep Kusi SVD. Para frater bertugas membawakan kor dan menjadi petugas liturgi. Semua penghuni panti terlibat aktif dalam perayaan ekaristi dimaksud.
Setelah perayaan ekaristi, acara dilanjutkan dengan rekreasi bersama di ruang tamu Panti Asuhan St. Aloysius. Berbagai jenis acara ditampilkan dalam kegiatan tersebut, baik acara yang dibawakan para frater maupun acara yang dibawakan anak-anak panti.
Kegiatan para frater ditutup dengan santap siang bersama dan penyerahan sumbangan kepada Panti Asuhan St. Aloysius. Sebelum berpisah, kedua pihak berjanji untuk saling mendoakan dan terus menjalin relasi kasih satu sama lain.

Penulis: Frater Yovan Rante, SVD 


Sunday, May 7, 2017

STFK Ledalero Adakan Seminar Nasional tentang “Human Trafficking”

Seminariledalero.org - Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero mengadakan seminar nasional tentang human trafficking (perdagangan manusia) di gedung aula lembaga pendidikan tinggi tersebut, Sabtu (6/5) pagi.
Seminar ini menghadirkan dua pembicara yakni Dra. Sri Palupi M.Pd (Pendiri The Institut for Ecosoc Rights) dan Pater Dr. Alexander Jebadu SVD (dosen Misiologi STFK Ledalero).
Kegiatan seminar dibuka Ketua STFK Ledalero Pater Bernard Raho SVD. Sedangkan pemaparan makalah dan diskusi dipandu Pater Yohanes Orong SVD, dosen Bahasa Indonesia STFK Ledalero.
Pater Bernard dalam kata sambutannya mengatakan, seminar mengenai human trafficking adalah lanjutan dari seminar tentang HIV/AIDS yang pernah diadakan pada April 2016 lalu. Keduanya merupakan persoalan utama masyarakat NTT yang ditemukan dalam kapitel terakhir Provinsi SVD Ende, lembaga yang membawahi STFK Ledalero.
Sementara itu, Dra. Sri Palupi M. Pd dalam makalah yang dibawakannya antara lain menyoroti seriusnya masalah perdagang manusia di NTT. Menurut dia, penanganan masalah tersebut menjadi rumit justru karena dilakukan oleh keluarga sendiri.
“Selain itu, satu gaya hidup yang mengakibatkan semakin tingginya angka perdagangan manusia di NTT adalah minimnya rasa solidaritas. Masing-masing orang berjuang untuk kemakmurannya sendiri, termasuk dengan cara mengorbankan orang lain,” katanya.
Keterlibatan semua pihak menjadi satu tawaran solusi yang diajukan Pater Dr. Alexander Jebadu SVD dalam makalahnya yang berjudul “Perdagangan Manusia sebagai Kejahatan Global dan Gerakan Internasional untuk Menghentikannya. Perjuangan secara global, kata dia, menjadi kekuatan baru yang mampu memutuskan rantai human trafficking.
“Mari kita bahu-membahu menyadarkan masyarakat akan meningkatnya kasus perdagangan manusia. Kita ajak mereka untuk saling jaga sebagai saudara,” imbuhnya.
Disaksikan Seminariledalero.org, seminari ini juga dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Sikka Rafael Raga, para dosen, pegawai dan mahasiswa STFK Ledalero. Selain itu, tampak hadir beberapa tamu undangan, termasuk dari lembaga pemerintah dan LSM.

Penulis : Frater Yovan Rante, SVD