Tuesday, August 21, 2018

Pater Superior General Adakan Pertemuan dengan Para Frater


seminariledalero.org - Pater Paulus Budi Kleden, SVD, Superior General Serikat Sabda Allah mengadakan pertemuan dengan para frater berkaul sementara di Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Jumat (17/08/2018). Pertemuan beralangsung selama dua setengah jam, dari pukul 16.30 hingga pukul 19.00 Wita.  Pertemuan ini menjadi salah satu agenda kunjungan perdana Superior General setelah dipilih dalam Kapitel General di Nemi, 17 Juni – 14 Juli 2018 yang lalu.

Ada beberapa hal penting yang dijelaskan oleh Pater Paulus Budi Kleden, SVD dalam tatap muka ini antara lain mengenai proses dan hasil Kapitel General, pendalaman spiritualitas misioner, formasi dasar dan komitmen JPIC. Sehubungan dengan Kapitel General ke XVIII, Pater menjelaskan bahwa jumlah kapitularis 149 orang yang terdiri dari: 118 orang Kapitularis, 14 orang pengamat dan 17 orang staf yang bekerja sebagai sekretaris kapitel. Menurut Pater Budi, Kapitel General ke- XVIII ini memiliki dua kekhasan: Pertama, untuk pertama kalinya menggunakan 2 fasilitator yang berasal dari anggota SVD dan seorang Biarawati SSpS. Kedua, kapitel general juga mengedepankan proses disermen melalui sharing Kitab Suci setiap hari sebelum memulai pertemuan kapitel.
“Disermen menjadi sarana yang baik untuk berefleksi. Melalui disermen seluruh peserta Kapitel menemukan kehendak Allah. Tentunya kehendak Allah itu bersumber dari Kitab Suci yang menjadi semangat dasar pembaharuan spiritualitas misioner. Mengenai Disermen, Paus Fransiskus memiliki pengalaman khusus dalam merancang eksiklik yang mempengaruhi dunia. Kita sebagai kaum religius perlu menggunakan metode ini untuk mengambil keputusan-keputusan penting”, demikian jelas Pater Budi.
Lebih lanjut Pater Superior General menjelaskan tiga pernyataan kapitel yang diambil dari tema Kapitel General “Kasih Kristus mendesak kami (2 Kor 5:14): Berakar dalam Sang Sabda dan berkomitmen untuk misiNya”. Tema ini bertujuan untuk mendorong proses pembaharuan rohani dan membawa semua anggota kepada Sabda Allah sebagai sumber hidup, panggilan dan perutusan serta komitmen religius-misioner. Adapun tiga pernyaaan kapitel tersebut memiliki konsekuensinya tersendiri. Pertama, kasih Kristus mendesak Kami. Dalam bagian ini seluruh kapitularis diarahkan untuk mendalami kasih Allah secara pribadi, melakukan disermen untuk mengetahui kasih Allah yang dialami oleh St. Arnoldus Jansen, SVD dan mensharingkan realitas kasih Allah dalam kehidupan komunitas. Kedua, keberakaran dalam Sang Sabda. Dalam bagian ini kapitularis diarahkan untuk disermen. Ketiga, berkomitmen dalam misi-Nya, yakni misi ad intra dan misi ad extra.
Dalam pertemuan ini, Pater Superior General juga menjelaskan tentang pendalaman spiritualitas misioner. Spiritualitas, menurut Pater Budi bukan soal kesalehan atau doa tetapi suatu relasi dasar dengan Tuhan, sesama dan alam ciptaan. Melalui spiritualitas semua anggota Serikat mampu menghadapi tantangan dan tidak mudah putus asa. “Satu hal penting dalam spiritulitas misioner kita adalah kerelaan berkorban. Hal ini menjadi bagian inti dari misi kita”, kata Pater Budi.
Salah satu hal penting yang dijelaskan oleh Pater Superior General dalam pertemuan ini adalah mengenai komitmen JPIC. Pater Budi mengajak para Frater untuk memperhatikan secara serius kaum marginal yang disingkirkan karena menjadi korban ketidakadilan. Setiap anggota SVD dipanggil untuk berjuang bersama orang miskin mencapai kehidupan yang layak. Dalam menjalankan tugas ini, Pater Budi menekankan beberapa hal penting seperti spiritualitas yang menghadirkan Allah dalam perjuangan bersama orang miskin, wawasan yang memadai dan kemampuan khusus untuk mengorganisir kelompok-kelompok rentan.
Pater Ignas Ledot, SVD sebagai moderator dalam pertemuan ini memberi ruang kepada para Frater untuk memberikan pertanyaan kepada Pater Superior General. Dalam kesempatan itu, Fr. Iden Tober, SVD menanyakan tentang kesaksian Pater Superior General tentang dedikasi misionaris SVD Indonesia di tanah misi. Menanggapi pertanyaan ini, Pater Budi mengambarkan kekhasan misionaris Indonesia yang terbuka terhadap kebudayaan baru dan mudah didekati juga mendekati orang dari berbagai latar belakang. Tetapi, Pater Budi mengingatkan akan satu tangangan besar misionaris Indonesia adalah bahasa. Dalam kesempatan ini, Pater Budi mengajak para Frater untuk tekun belajar bahasa karena bahasa menjadi pintu masuk untuk mempelajari kebudayaan baru.
Berkaitan dengan  misi, Frater Calvin Pala, SVD bertanya kepada Pater Superior mengenai daerah-daerah yang mengalami tantangan berat dan strategi Serikat dalam menangani persoalan tersebut. Dengan penuh optimisme, Pater Budi memberikan motivasi bahwa setiap misionaris memiliki tantangan tersendiri. Akan tetapi, dalam Tuhan semua tantangan itu bisa diatasi dengan baik. Lebih lanjut, Pater Budi menginformasikan beberapa negara yang mengalami pergolakan politik dan mempengaruhi misi SVD antara lain: Cina, Vietnam, Venezuela dan Nikaragua.
Di akhir pertemuan Pater Budi meminta doa dari Para Frater dalam tugasnya memimpin 6800 anggota SVD yang berkarya di 84 negara. Pater Budi juga memberikan beberapa nasihat kepada seluruh Frater untuk menyiapkan diri menjadi misionaris SVD terutama di era digital ini. Pater Budi meminta Para Frater untuk bijak dan cerdas dalam menggunakan media sosial sebagai jalan pewartaan. “Ada bahaya bahwa semua hal dalam komunitas diekspos ke dunia luar. Sebagai religius misionaris, kita harus bijak menggunakan media sosial. Kita harus membedakan ruang publik dan ruang privat secara bijaksana” jelas Pater Budi merendah. (Rio Nanto)

SUPERIOR JENDERAL SVD MENJUMPAI KONFRATER KAUL KEKAL WILAYAH MAUMERE



seminariledalero.org - Pater Superior Jenderal Serikat Sabda Allah, Pater Budi Kleden, SVD, mengadakan pertemuan dengan konfrater berkaul kekal distrik Maumere. Pertemuan berlangsung pada Kamis, (16/08/2018) pukul 16.30-19.30 wita. Hadir dalam pertemuan ini 77 konfrater SVD, yakni para pastor dan bruder yang berkarya di wilayah Maumere serta di komunitas Ledalero dan Candradytia.

Dalam pertemuan yang bertempat di pendopo Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero itu, P. Lukas Jua, SVD, selaku Provinsial SVD Ende, hadir sebagai salah satu pembicara. Ia menjelaskan proses Kapitel General ke-18 hingga pemilihan Superior Jenderal yang baru. Pada kesempatan berikut, P. Hubert Thomas, SVD, mensosialisasikan hasil Kapitel General secara mendetail. P. Budi Kleden, SVD juga mendapatkan kesempatan ketiga untuk sharing pengalaman saat dipilih untuk menjadi pemimpin tertinggi Serikat Sabda Allah. Pater Superior juga menyampaikan beberapa catatan penting atas karya misi dan implementasi atas Kapitel General 2018 khususnya di provinsi SVD Ende.
P. Frans Ceunfin, SVD, selaku Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, menjadi pemandu sekaligus moderator dalam seluruh pertemuan. Para konfrater memiliki kesempatan untuk bertanya atau sekedar memberi tanggapan pada P. Budi Kleden, SVD.
“Komitmen pada misiNya menjadi basis yang harus dijaga dan dikembangkan oleh para konfrater Serikat Sabda Allah. Komitmen ini terkait dengan matra khas dan dua arah misi kita, yakni ad-intra dan ad-extra,” demikian penjelasan P. Hubert Thomas, SVD saat memberi presentasi atas hasil kapitel general di hadapan konfrater berkaul kekal.

P. Hubert Thomas, selaku kapitularis, menegaskan beberapa poin penting terkait misi ad-intra dan ad-extra secara khusus. Kehidupan komunitas, kepemimpinan dan spirit ‘putting the last first’ adalah beberapa elemen yang harus diolah secara serius dalam misi ad-intra atau misi ke dalam. Sedangkan terkait misi ad-extra, ada tiga pokok penting yang perlu dilihat dan dilaksanakan. Tiga poin tersebut adalah misi keutuhan ciptaan (JPIC), misi era digital dan tanggung jawab misi bersama rekan-rekan awam.
P. Lukas Jua, SVD, Provinsial SVD Ende, memberikan beberapa penjelasan dan penegasan atas Kapitel General. Ia menekankan pentingnya kesadaran diri dalam setiap konfrater. “Penekanan pada aspek kesadaran spiritualitas misioner menjadi esensi dasar dari kapitel ke-18. Kita semua diajak untuk menyadari identitas kita dan berakar dalam Sang Sabda,” kata Pater Lukas.
P. Lukas juga memberi komentar seputar aktivitas sharing Kitab Suci dalam komunitas-komunitas SVD. Kegiatan Sharing seharusnya berpangkal pada suatu refleksi yang mendalam atas pengalaman pribadi, tidak hanya menjawabi pertanyaan refleksi yang diberikan atau mengomentari sekilas ayat-ayat Kitab Suci.

Sebagai tanggapan atas misi era digital, P. Lukas juga menekankan dua aspek penting yang perlu mendapat perhatian serius. “Generasi digital dan teknologi itu sendiri harus menjadi perhatian yang serius bagi setiap konfrater. Banyak kasus seputar penyalahgunaan media komunikasi menjerat konfrater kita. Media sosial dijadikan wadah pelampiasan emosi-emosi negatif daripada sarana yang edukatif dan misioner,” tegasnya.
Siapakah saya?
Pada kesempatan berikutnya Pater Budi Kleden, SVD membagikan pengalamannya saat terpilih menjadi Superior Jenderal Serikat Sabda Allah. “Sejak terdengar rumor bahwa P. Heinz Kuluke, SVD tidak akan melanjutkan tugas kepemimpinannya, saya mulai diberi bisikan untuk bersiap-siap. Menjelang semakin dekatnya waktu pemilihan, dukungan terhadap saya semakin banyak. Bisikan-bisikan dan ungkapan dukungan yang tadinya saya anggap sebagai celotehan saja kini menjadi kenyataan. Saya terpilih menjadi Superior Jenderal,” demikian Pater Budi membuka sharing pengalamannya.
“Saya, dalam disermen pribadi, akhirnya bertanya, “siapakah saya?’, ‘Apakah saya sanggup melanjutkan kepemimpinan kharismatik P. Heinz?’ Berbagai pertanyaan itu mendorong saya untuk menerima penugasan sebagai Superior Jenderal SVD,” lanjut Pater mantan Direktur Pascasarjana STFK Ledalero itu.
P. Budi Kleden, SVD yang juga menjabat sebagai anggota dewan genderal SVD 2012-2018 itu menegaskan pentingnya menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan oleh serikat. Banyak konfrater yang tidak menerima atau mengundurkan diri bila dicalonkan menjadi rektor regional atau provinsial di tanah misi. Hal ini menjadi semangat yang tidak sehat. Ia menyatakan bahwa misi kita tidak harus sesuai dengan keinginan pribadi kita, melainkan harus sesuai dengan kebutuhan misi yang lebih besar.
Kreativitas juga menjadi topik penting yang disinggung oleh pater kelahiran Waibalun ini. Ia mengajak semua konfrater untuk tidak hanya menjalankan misi yang sudah terformat seperti Ekaristi atau pelayanan sakramen. Setiap konfrater harus kreatif dalam mencari model misi sesuai dengan konteks kebutuhan gereja lokal dan umat.
“Saya berpikir bahwa setiap konfrater harus mengalami sendiri pengalaman interkulturalitas dan internasionalitas dalam komunitas-komunitas sebagai ciri khas serikat kita. Saya akan berusaha untuk mendorong kehadiran konfrater dari negara lain untuk berkarya di Indonesia. Selain OTP (Overseas Training Program) yang selama ini sudah kita jalankan, saya akan mendorong konfrater dari negara lain untuk belajar dan berkarya di komunitas-komunitas kita,” ujarnya.

Pater Superior juga menekankan pentingnya tradisi ‘anthropos’ yang ada dalam Serikat Sabda Allah. Ia mengajak para formator sekalian untuk terus mendorong konfrater muda berinovasi dalam penelitian seputar tema manusia dan kebudayaan. Selain itu, para konfrater muda yang memiliki banyak potensi harus didorong untuk menulis dan mempublikasikan karya-karyanya. Oleh karena itu, kompetensi akademik harus terus dikembangkan.

“Klerikalisme tidak punya tempat dalam SVD. Promosi panggilan untuk frater dan bruder harus diperhatikan. Kita jangan menekankan salah satu dan mengabaikan yang lain,” demikian tegas Pater Superior Jenderal saat berbicara tentang promosi panggilan bagi bruder SVD.

Seluruh rangkaian pertemuan bersama Pater Superior Jenderal pada sore dan malam hari ini diakhiri dengan acara santap malam bersama di kamar makan unit St. Paulus. (Fr. Geovanny Calvin De Flores Pala, SVD)

Dr. Otto Gusti Madung Dilantik Menjadi Ketua STFK Ledalero # Periode 2018-2022


seminariledalero.org – Pater Doktor Otto Gusti Ndegong Madung, SVD dilantik menjadi ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero periode 2018-2022 oleh ketua Yayasan Persekolahan Santu Paulus Ende, Pater Alfons Mana, SVD, Lic. Upacara pelantikan berlangsung di Aula Santu Thomas Aquinas STFK Ledalero, Sabtu (18/08/2018) pada pukul 10.30 Wita.

Pater Doktor Otto Gusti Nd. Madung, SVD dipilih menjadi ketua STFK Ledalero dalam sidang senat dosen pada bulan April lalu untuk menggantikan Pater Bernard Raho, SVD yang telah berakhir masa jabatannya pada 2018 ini. 

Dengan mempertimbangkan hasil sidang senat dosen itu dan keputusan provinsial dan dewan provinsi SVD Ende, dewan pengurus Yayasan Persekolahan Santu Paulus Ende mengangkat dan menetapkan Pater Doktor Otto Gusti Madung, SVD sebagai Ketua STFK Ledalero periode 2018-2022.



Filsafat dan Era Industri 4.0
Ketua STFK Ledalero yang baru, Dr. Otto Gusti Madung, dalam sambutannya menyinggung relevansi filsafat di era revolusi industri 4.0 ini. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan digital economy, artificial inteligence dan robotic.

Otto Gusti mengatakan bahwa para filsuf dan teolog biasa mendapat julukan sebagai cendekiawan tahu banyak tentang sedikit. Akan tetapi, era cendekiawan ‘tahu banyak tentang sedikit’ ini sudah berlalu. Dunia kerja era industri 4.0 menuntut spesialisasi dari calon tenaga kerja. Mantan Puket I STFK Ledalero itu juga menambahkan bahwa cendikiawan ideal di masa kini adalah cendikiawan Fachidiot.
“Era bagi para generalis dan waktu bagi para cendekiawan yang tahu banyak tentang sedikit  sudah berlalu. Dunia kerja yang saat ini sangat kompetitif menuntut spesialisasi dari calon tenaga kerja. Bahkan, dewasa ini, prototipe ideal cendekiawan di era kini adalah cendikiawan Fachidiot, yakni orang yang ahli sekali dalam bidangnya tetapi menjadi idiot untuk bidang yang lain,demikian kata Otto Gusti, alumnus Hochschule für Philosophie, Munchen Jerman itu. 
Berhadapan dengan tantangan era industri 4.0 ini, dosen HAM dan Filsafat Politik STFK Ledalero ini berasumsi bahwa belajar filsafat tetap memiliki kontribusi penting untuk era industri 4.0 ini. Dalam sambutannya, Otto Gusti menyebut salah satu peran filsafat misalnya adalah filsafat diperlukan sebagai strategi budaya.
“Filsafat dan teologi diperlukan sebagai strategi budaya. Pembanganun ekonomi dan teknologi tanpa strategi budaya akan menciptakan masyarakat yang inhuman, masyarakat barbar dan berfungsi berdasarkan logika hukum rimba. Budaya dimengerti sebagai orientasi etis atau visi dasar yang menata sebuah masyarakat agar menjadi lebih bermakna.
Karena itu filsafat dan teologi tetap kontekstual terutama dalam menawarkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan manusia dewasa ini,” tegas Doktor Filsafat kelahiran Lengko Elar, Manggarai Timur, 20 Mei 1970 itu.
Lebih lanjut, Otto yang pernah menulis disertasi berjudul “Politik dan Kekerasan. Sebuah Studi Perbandingan tentang Giorgio Agamben dan Jürgen Habermas” itu menegaskan bahwa filsafat berkontribusi dalam menciptakan masayarakat yang kritis, kreatif dan mandiri. “Filsafat adalah metode berpikir kritis dan mandiri. Tantangan dan perubahan zaman hanya dapat dihadapi secara kreatif oleh pribadi yang mandiri, kritis dan terbuka terhadap peluang-peluang baru. Di sini, filsafat dapat memberikan kontribusi yang berarti,” kata Otto.
Rencana Aksi
Dalam sambutannya, ketua sekolah masa jabatan 2018-2022 itu juga mengutarakan rencana dan aksi konkret yang perlu dijalankan ke depan. Pengembangan program studi baru, peningkatan mutu penelitian dan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, yang baik oleh mahasiswa dan mahisiswi merupakan serangkaian rencana aksi yang akan dijalankan ke depan.
Terkait program penguasaan bahasa asing oleh mahasiswa, Otto Gusti menambahkan bahwa sekolah akan menyiapkan sistem dan regulasi yang dapat memastikan penguasaan bahasa asing yang baik oleh mahasiswa. “Dalam sejumlah pembicaraan, kita rencanakan tahun 2020 mahasiswa yang menamatkan program S1 di sini harus memiliki skor TOEFL 450,” tegas Otto. Rangkaian rancangan dan rencana aksi itu dicanangkan untuk menjawabi tantangan zaman dan juga untuk meningkatkan kontribusi institusi bagi pengembangan masyarakat.
Utamakan Tugas Kepemimpinan
Pater Alfons Mana selaku Ketua Yayasan persekolahan St. Paulus Ende meminta Pater Otto Gusti Nd. Madung agar mengutamakan tugas kepemimpinan di samping tugas sebagai dosen. “Pater menghadapi tugas yang begitu berat karena menjalankan tugas kepemimpinan di satu sisi dan peningkatan profesionalisme sebagai dosen dan peneliti di sisi lain. Kami meminta agar tugas kepemimpinan diutamakan sebelum menjalankan tugas-tugas yang kedua,” kata Alfons Mana.
Pada kesempatan ini juga, Ketua STFK Ledalero yang lama, Pater Bernard Raho, Drs., M.A, mendapat kesempatan untuk menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya ia pertama-tama menyampaikan ucapan terima kasih kepada ketua Yayasan Persekolahan Santu Paulus yang lama, Alm. P. Dr. Hendrikus Dori Wuwur, SVD, dan ketua Yayasan yang baru Pater Alfons Mana, Lic. atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menjadi ketua STFK Ledalero selama delapan tahun. Selain itu, ia juga berterima kasih kepada para provinsial SVD Ende Pater Prof. Kondrad Kebung, SVD (2009-2011), Pater Leo Kleden, SVD (2011-2017), dan Pater Lukas Jua, SVD (2018-) atas kepercayaan dan kerjasama selama ia menjabat sebagai Ketua STFK Ledalero sejak 2010 hingga 2018. Tak lupa pula dosen sosiologi STFK Ledalero itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pater Paul Budi Kleden, SVD yang selama satu tahun lebih menjadi direktur program pascasarjana dan Pater Georg Kirchberger, SVD yang selama hampir tujuh tahun menjadi direktur program pascasarjana. Kepada para dosen dan para pegawai serta para mahasiswa, Pater Bernard juga menyampaikan ucapan terima kasih.
Pater Bernard mengaku bangga karena ia meninggalkan STFK Ledalero dalam keadaan baik. STFK Ledalero, sampai saat ini masih berada dalam status terakreditasi oleh Badan Perguruan Tinggi Nasional. Ia mengharapkan agar hal ini tetap dipertahankan selanjutnya dan kalau boleh terus ditingkatkan.
Disaksikan oleh media ini, upacara pelantikan ketua STFK Ledalero yang baru ini diawali dengan misa pembukaan tahun akademik 2018/2019 yang dipimpin oleh Pater Alfons Mana, SVD dan didampingi oleh Superior General SVD terpilih Pater Paulus Budi Kleden, SVD, Provinsial SVD Ende, Pater Lukas Jua, SVD, Preses Seminari Tinggi Ritapiret, RD. Philipus Ola Daen, Pr., serta puluhan imam konselebrantes lainnya. Misa juga dihadiri oleh segenap civitas akademika STFK Ledalero dan dimeriahkan oleh koor dari Konvik Seminari Tinggi Ledalero. Sedangkan pada saat upacara pelantikan turut hadir juga Penjabat Bupati Sikka, Kapolres Sikka, unsur FORKOPIMDA, kepala dinas PPO Kabupaten Sikka, para dosen dan mahasiswa-masisiswi STFK Ledalero.

Biografi Singkat Otto Gusti Madung
            Otto Gusti Ndegong Madung lahir di Lengko Elar, Manggarai Timur, Flores pada tanggal 20 Mei 1970. Tahun 1991 mulai belajar filsafat pada STFK Ledalero. 1994 meneruskan studi teologi di Philosophisch-Theologische Hochschule St. Gabriel, Mödling bei Wien, Austria dan mencapai gelar Magister der Theologie pada tahun 1999.
            Juli 1998-September 2000 menjalankan praktik diakonat dan bekerja sebagai imam pembantu di sebuah paroki di Kota Wina-Austria.
            Oktober 2000-akhir september 2001 bekerja pada Institut Sosial Jakarta: Sebuah LSM milik Serikat Jesuit yang bergerak di bidang advokasi masyarakat miskin Kota Jakarta.
            Akhir 2001 – Februari 2008 belajar filsafat pada Hochschule für Philosophie, Munchen Jerman. Tanggal 8 Februari 2008 mempertahankan tesis doktoral berjudul “Politik und Gewalt. Giorgio Agamben und Jürgen Habermas im Vergleich” – “Politik dan Kekerasan. Sebuah Studi Perbandingan tentang Giorgio Agamben dan Jürgen Habermas”. (Arsen Jemarut dan Ferdi Jehalut)

Seminari Tinggi Ledalero Kedatangan 68 Frater Baru


seminariledalero.org - Pada hari ini (Jumat, 17/08/2018), Komunitas Seminari Tinggi Santu Paulus Ledalero kedatangan 68 frater Tingkat Satu yang baru menyelesaikan masa novisiat selama dua tahun. 68 frater ini terdiri dari 28 frater yang menjalankan masa novisiat di Novisiat St. Yosef Nenuk, Atambua dan 40 frater yang menjalankan masa novisiat di Novisiat Sang Sabda Kuwu, Ruteng, Manggarai. Mereka, pada 15 Agustus lalu sudah mengikrarkan kaul pertama di kedua Novisiat, Nenuk dan Kuwu dan bersedia untuk melanjutkan studi filsafat di STFK Ledalero. 68 frater baru ini dibagi ke dalam dua unit yakni 34 frater di unit Mikael dan 34 lainnya di unit Gabriel. Para frater yang menempati unit Mikael akan didampingi oleh Pater Sefri Juhani, SVD dan Pater Bernard Bunga Ama, SVD, sementara para frater yang menempati unit Gabriel akan didampingi oleh Pater Hendrik Maku, SVD dan Pater Alex Jebadu, SVD.

Disaksikan oleh seminariledalero.org, 68 frater baru ini terlihat begitu bahagia ketika tiba di Ledalero; beberapa orang frater sempat mengungkapkan kebahagiaan mereka karena sudah tiba di Ledalero, bukit yang sudah lama mereka rindukan. Salah seorang dari antara mereka yang sempat diwawancarai oleh Seminariledalero.org, yang baru menyelesaikan masa novisiat di Novisiat St. Yosef Nenuk, bernama Fr. Evans Kaha, SVD mengaku bangga dan bahagia karena bisa tiba di Ledalero dengan selamat dan akan menjadi salah satu anggota komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           Fr.
Evans mengatakan bahwa tanggal 15 Agustus lalu dia berani mengkirarkan kaul pertama di Novisiat Nenuk, karena ingin mengikuti jejak Kristus dan melangkahkan kaki ke Ledalero. Ini merupakan sebuah langkah baru untuk mencari tahu lebih dalam lagi seperti apa itu SVD. “Saya merasa sangat bahagia dan tidak asing dengan situasi di unit ini (Mikhael), karena situasinya tidak jauh berbeda dengan Novisiat Nenuk; dan saya merasa bahwa saya memiliki SVD”, lanjut frater Evans yang memiliki bakat dalam bidang sastra ini. (Fr. Senus Nega, SVD?