Sunday, February 10, 2019

Puluhan Frater SVD Melakukan Penghijauan di Bukit Nitakloang

Para Frater sedang Melakukan Penanaman Pohon di Bukit Nitakloang pada sabtu (9/02/19)

seminariledalero.orgPuluhan frater Serikat Sabda Allah (SVD) yang tergabung dalam unit formasi Wisma St. Rafel, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Maumere, Sikka – Nusa Tenggara Timur melakukan penghijauan di bukit Nitakloang pada Sabtu (09/02/2019). Bukit ini merupakan salah satu sumber mata air bagi komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dan juga bagi  lahan persawahan masyarakat Nitakloang yang berada di sekitar area bukit tersebut.

Disaksikan Seminariledalero.org para frater membawa ratusan anakan pohon yang terdiri atas tiga jenis tanaman, yakni mahoni, sengon, dan beringin. Anakan-anakan pohon tersebut diangkut menggunakan truk kayu dari Wisma St. Rafael sampai di penghujung jalan tani Desa Nitakloang, Kecamatan Nita. Kemudian dari situ para frater memikul anakan-anakan pohon tersebut menuju lokasi penghijauan. Para frater tiba di lokasi penghijauan tepat pada pukul 09.00 Wita.   

Kegiatan ini merupakan realisasi kapitel provinsi SVD Ende dan ditindaklanjuti dalam Rencana Strategis (Renstra) 2019 Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Hal itu dikatakan oleh Pater Ignas Ledot, SVD  prefek unit St. Rafael kepada para frater Wisama St. Rafael sebelum berangkat menuju lokasi penghijauan. “Kegiatan kita ini merupakan realisasi Kapitel Provinsi SVD Ende yang dimasukkan dalam Renstra Komunitas St. Paulus Ledalero Tahun 2019”, kata Pater Ignas. 

Lebih lanjut Pater Ignas menekankan pentingnya penghijaun ini, yakni dalam rangka meningkatkan debit air di mata air Nitakloang. “Kita perlu menanam pohon-pohon yang mampu membantu peresapan air, sehingga debit air di mata air Nitakloang bisa meningkat”, ungkap Pater Ignas.
Kegiatan yang bertajuk penghijauan itu dilakukan pada Sabtu pagi. Sebelum berangkat menuju lokasi penghijauan, para frater dan pater secara bersama-sama mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan seperti mempersiapkan anakan pohon, linggis, pacul, sekop, wadah untuk menyimpan anakan pohon, dan perlengkapan lain yang memudahkan untuk penanaman anakan pohon. 

Tepat pukul 08.00 Wita truk berangkat menuju tempat penghijauan. Karena tempat penghijauan itu berada di bukit, para frater bersama Pater Ignas harus berjalan kaki melewati jalan yang cukup terjal yang jaraknya kurang lebih empat sampai lima kilometer dari penghujung jalan tani Desa Nitakloang. Setibanya di lokasi, Pater Ignas langsung memberi pengarahan singkat kepada para frater. “Ada tiga jenis anakan pohon yang akan kita tanam. Ada mahoni, sengon, dan beringin. Jadi nanti ada kelompok mahoni, sengon, dan beringin”. Setelah itu para frater langsung bergegas menuju lokasi penanaman.  

Frater Ferdi Jehalut, SVD, salah seorang frater yang sempat diwawancarai oleh media ini setelah kegiatan penanaman selesai mengatakan bahwa dirinya bersama para frater lainnya sangat mengharapka agar pohon yang mereka tanam dapat bertumbuh. “Harapan saya dan teman-teman, pohon-pohon yang kami tanam hari ini dapat bertumbuh dengan baik. Kalau ratusan pohon yang kami tanam hari ini hidup semua, debet air untuk komunitas Seminari Tinggi Ledalero bisa bertambah”, kata Frater Ferdi. 

Penulis            :Fr. Ius Laka, SVD
Editor             : Flory Djhaut



Friday, January 25, 2019

Membangun Ekonomi Kerakyatan dan Semangat Kewirausahaan

Johnny G. Plate (Kiri) sedang Memberikan Kuliah Umum di Kampus STFK Ledalero Maumere pada Sabtu (26/01/19)



seminariledalero.org. Anggota DPR RI dari Fraksi  Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Johnny G. Plate membawakan kuliah umum di Kampus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere pada Sabtu (26/01/19). Di bawah tema: “Ekonomi Kerakyatan dan  dan Kewirausahaan”, Johnny Plate menyoroti perekonomian Indonesia, baik dalam skala nasional maupun dalam skala global dan tantangan-tantangan ekonomi yang di hadapi oleh Indonesia saat ini.
“ Indonesia sedang dibangun di era global yang mendapat tantangan yang lebih besar. Tantangan yang sangat besar. Salah-salah mengatur kelola negara, kita akan mengalami kesulitan yang besar.  Kita berada di era di mana terjadinya perang dagang. Indonesia sebagai negara yang menjadi bagian integrasi di dalam perekonomian global kemudian tidak bisa lepas dari relasi dan hubungan ekonomi dengan negara-negara lain. Kita berada di era di mana terjadi perang dagang antara negara-negara besar di dunia, khususnya di antara Amerika dengan mitra dagangnya di bawah Presiden Donald Trump.” Demikian disampaikan anggota Komisi XI DPR RI  yang membidangi Keuangan, Perencanaan Pembangunan dan Perbankan ini.
Lebih lanjut, anggota DPR RI yang mewakili  Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) I ini menegaskan bahwa perang dagang yang terjadi antara Amerika dengan mitra dagangnya memberikan dampak yang besar bagi perekonomian kita. Perang dagang menurut dia selalu menghasilkan dampak yang merugikan semuanya. Perang dagang tersebut seringkali menghasilkan resesi ekonomi. Dan Indonesia sedang merancang perekonomiannya di tengah situasi perang dagang tersebut. Menurut dia, inilah salah satu tantangan bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Tantangan lain adalah kebijakan ekonomi Bank Sentra Amerika yang menjadi acuan mata uang dunia, termasuk Indonesia.
Pada bagian lain, mantan Direktur Utama PT. Air Asia Investama ini menyinggung soal terjadinya disparitas ekonomi yang mendalam di antara berbagai wilayah di Indonesia. Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah sedang berusaha membangun infratruktur fisik, berupa jalan dan jembatan untuk membuka akses kepada sentra-sentra ekonomi baru. Selain itu, beliau juga menyinggung soal dana desa. Menurut Plate, dana desa yang dibagikan kepada setiap desa merupakan salah satu roda yang menggerakkan perekonomian rakyat. Karena itu, ia mendorong para kepala desa untuk mengelola dana  desa tersebut dengan baik untuk kepentingan masyarakat.
Sebagai bagian dari kunjungan kerjanya ke daerah pemilihan NTT I, calon anggota DPR RI 2019-2024 ini menyoroti posisi Propinsi NTT sebagai propinsi termiskin ketiga di Indonesia setelah Papua dan Papua Barat. Pendapatan Perkapita NTT menurut dia hanya sekitar 18 juta rupaiah dengan rasio gini 0,35. Posisi NTT sebagai propinsi termiskin ketiga kata dia, harus diperhatikan secara serius.
Salah satu bidang yang meningkatkan perekonomian NTT menurut dia adalah bidang pariwisata. NTT merupakan salah satu dari sepuluh daerah destinasi wisata. Oleh karena itu, tegas Plate, kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga harus menjadi pelaku pariwisata. “Partisipasi lokal dalam pariwisata harus lebih tinggi. Ini adalah tugas Pemda”, kata Plate. Masyarakat harus mengambil bagian dalam sektor privat, misalnya menjadi tenaga kerja yang berkualitas  bukan sebaliknya menjadi pekerja kasar.
Kepada para peserta kuliah, Plate mendorong setiap orang untuk berwirausaha. Bahkan dengan tegas ia mengatakan bahwa para imam atau para romo tidak hanya belajar filsfafat dan teologi, serta pandai berkotbah di atas mimbar, tetapi juga harus belajar ilmu-ilmu terapan, seperti ekonomi.  Dengan itu, kata dia, para imam juga bisa menjadi pemimpin perusahaan atau unit dagang milik diosesan. Ia juga mendorong para imam untuk menjadi role model bagi umat sebagaimana yang telah diwariskan oleh para misionaris barat dahulu. “Para imam harus berada di depan umatnya. Kalau para imam berdiri sejajar dengan umat, maka kita harus berhati-hati, apalagi kalau berada di belakang umat”, kata Plate.
Kuliah umum yang berlangsung selama kurang lebih tiga setengah jam ini dimoderatori oleh Rm. Inosensius  Mansur, Pr. dan dihadiri oleh  Provinsial SVD Ende Pater Lukas Jua, SVD, para mahasiswa dan mahasiswi dari beberapa kampus, para dosen, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para pelaku ekonomi kerakyatan yang diwakili para kepala dan bendahara koperasi-koperasi kredit (kopdit). Kuliah umum ini merupakan bagian dari program menyongsong pesta emas 50 tahun berdirinya STFK Ledalero.**  
Penulis & Editor: Flory Djhaut

Monday, January 14, 2019

21 Frater SVD Memulai Masa Novisiat Kekal




Seminariledalero.org Sebanyak 21 frater SVD yang telah menyelesaikan tahun orientasi pastoral (TOP)  mulai memasuki masa novisiat kekal selama enam bulan. Masa novisiat kekal atau masa probasi ini secara resmi dibuka pada perayaan ekaristi peringatan St. Arnoldus Janssen pendiri tiga serikat, yakni SVD, SSpS, dan SSpS Ap di Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Selasa pagi (15/01/19). Pembukaan masa novisiat kekal ini ditandai dengan penyerahan buku program novisiat kekal oleh Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Pater Fransiskus Ceunfin, SVD  kepada ke-21 frater.
Ke-21 frater yang akan memulai masa probasi tersebut adalah: Frater Aris Gah Marianus Dominikus, Frater Bagaena Huler Anselmus, Frater Djuwa Dobe Ngole Porkarius, Frater Gaba Laurensius Carolus, Frater Gonsalves Mauricio, Frater Hermandira Saup Yustinus, Frater Ikun Kamilus, Frater Kolo Gili Valerianus Adriano, Frater Koting Yoseph, Frater  Locho Reynald Engelbert, Frater Mali Fidelis, Frater Mali Mau Servianus, Frater Mite Lusius, Frater Niron Aprianus Putrason, Frater Nuwa Marianus, Frater Panda Lewa Krispianus, Frater Purnama Nila Aprintus Justian, Frater Suhendra Benediktus Yustisiano, Frater Tavelik Idaman Yosef, Frater Un Lazakar Yoseph, dan Frater Wayhuni Urbanus.
Setelah membuat discernment dalam terang Roh Kudus, ke-21 frater ini telah mengambil keputusan untuk memulai masa novisiat kekal mereka. Ke-21 frater akan  didampingi oleh Pater Andreas Tefa Sa’u, SVD di Unit Efrata Gere. Selama masa ini, para frater akan melalui berbagai paket yang membantu perkembangan pribadi dan panggilan mereka.
Pater Yanuarius Lobo, SVD selaku imam selebran dalam kotbahnya menegaskan bahwa peringatan St. Arnoldus Janssen tidak sekedar menjadi momen untuk mengenangkan kematiannya yang ke-110 tahun, tetapi juga menjadi momen untuk membaharui diri, menemukan jati diri sebagai seorang SVD di tengah tantangan misi masa kini. Pada bagian lain kotbahnya,  Pater Yanuarius juga mengangkat keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh St. Arnoldus Janssen.
Mengutip Konstitusi SVD No. 514, imam kelahiran Laja Bajawa ini menegaskan bahwa masa novisiat kekal bertujuan untuk meneguhkan jawaban samasaudara terhadap panggilan Tuhan. Dengan demikian mereka dapat mengambil keputusan terakhir untuk menyerahkan diri seumur hidup kepada Serikat Sabda Allah di dalam serikat kita, demi karya penyelamatan Allah.
Di akhir perayaan ekaristi, Pater Yanuarius mewakili Pater Rektor dan Anggota Dewan Rumah  memberikan ucapan selamat pesta St. Arnoldus Janssen kepada segenap anggota komunitas Seminari Tinggi Ledalero dan juga secara khusus memberikan ucapan selamat kepada 21 frater yang akan memulai masa novisiat kekal mereka.***
Penulis & Editor: Flory Djahut

Saturday, December 1, 2018

Membaca Pesan Tuhan di Era Disrupsi

Pater Amandus Klau, SVD sedang memberikan rekoleksi  menjelang masa Adven
kepada segenap warga komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Sabtu sore (1/12/18) di kapela agung


Seminariledalero.org “Disrupsi adalah perubahan mendasar yang terjadi, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja, sebagai akibat dari munculnya aneka inovasi kreatif yang membuat sesuatu yang sebelumnya berguna dan penting menjadi tidak berguna dan tidak penting.” Demikian diungkapkan Pater Amandus Klau, SVD ketika membawakan rekoleksi menjelang masa Adven di kapela agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Sabtu sore (1/12/18).

Menurut Pater Amandus, era disrupsi merupakan konsekuensi dari revolusi industri keempat (4.0). Industri  4.0 adalah nama tren dari praktik otomasi dan pertukaran  data terkini dalam teknologi pabrik. Era ini menurut dia adalah sesuatu yang patut dibanggakan, karena dengan kecanggihan teknologi fase 4.0 ini, pekerjaan manusia akan dilakukan secara lebih efektif dan efisien, dengan hasil yang lebih banyak dan lebih berkualitas. 

Meski demikian, era ini juga menurut dia menjadi ancaman bagi kita. “Karena cara berpikir  dan cara kerja manusia cenderung terpola mapan dan sulit diubah, maka revolusi ini  juga menimbulkan keguncangan yang mengerikan”, tegas Pater Amandus. Di era ini, lanjutnya, ada perubahan cara berpikir dari cara berpikir yang lama ke cara berpikir yang baru. 

Lebih lanjut dia menegaskan bahwa era ini mempunyai pola yang hampir sama dengan tindakan penyelamatan Allah. Injil Lukas 21:25-28. 34-36 memiliki pesan disrupsi. Mereka yang hidupnya tidak sungguh-sungguh akan diganti oleh yang hidupnya lebih sungguh-sungguh. Yang selama ini bertakhta seperti matahari, bulan dan bintang-bintang di langit akan diganti oleh Anak Manusia. Ini bukanlah sabotase melainkan proses disrupsi. 

Pada bagian lain renungannya, Pater Amandus menyebutkan bahwa peristiwa Allah menjadi manusia adalah sebuah jalan disrupsi. Ketika Tunas Daud datang dengan inovasi keadilan dan kebenaran, semua yang tidak adil, semua yang lalim, semua yang suka menjajah dan menindas akan tergusur. Dan terjadilah, Yehuda dibebaskan, dan Yerusalem makin tenteram hidupnya. Ketika Anak Manusia datang dengan inovasi kesederhanaanNya yang radikal, semua yang suka berpesta pora dan mengagungkan hal-hal duniawi menjadi terperangkap dalam jerat penghakiman

Menghindari Perangkap Penghakiman Allah

Pada bagian lain renungannya, Pater Amandus menegaskan bahwa untuk menghindari diri dari penghakiman Allah, kita harus ingat pesan Yesus sendiri: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat  oleh pesta pora dan kemabukan, serta kepentigan-kepentingan duniawi.” Pesta pora lebih merupakan suatu gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif selain merupakan gaya hidup yang tahu mengabiskan dan hanya tahu pakai, juga merupakan gaya hidup yang tidak tahu memanfaatkan potensi yang ada. Misalnya menggunakan wifi  di unit hanya untuk menonton video yang lucu dan tidak menggunakannya untuk mengunduh buku-buku yang bagus. 

Kemabukan menurut Pater Amandus tidak hanya berarti setiap hari menghabiskan minuman keras, tetapi juga berarti keranjingan main facebook atau menonton film-film kesukaan sampai lupa tidur. “Dengan kata lain, meladeni kesenangan  hingga melupakan yang priotitas.” Tegas Pater Amandus*

Penulis & Editor: Flory Djhaut