Wednesday, January 4, 2017

Aletheia akan Pentaskan Teater “Menjaga Api”

Fr. Selo Lamatapo, SVD
seminariledalero.org - Aletheia, kelompok minat teater para Frater Seminari Tinggi Ledalero, akan mementaskan teater berjudul “Menjaga Api” di aula Sta. Theresia Avilla, Bhaktyarsa, Maumere, pada Rabu (11 Januari 2017). Teater karya ketua Aletheia, Fr. Selo Lamatapo SVD, ini juga akan melibatkan para siswa SMA Bhaktyarsa, beberapa guru di SMP Virgo Fidelis dan SMA Bhaktyarsa, serta beberapa anggota Orang Muda Katolik (OMK).
Fr. Selo, ketika diwawancarai seminariledalero.org mengungkapkan naskah teater ini berinspirasikan cara kerja api. Api, kata Fr. Selo, kalau dijaga dengan baik akan membawa banyak manfaat bagi manusia, sebaliknya kalau tidak dijaga, kobarannya akan menghanguskan dan membawa malapetakan. “Selain itu, api juga melambangkan karya Roh Kudus yang senantiasa menerangi dan memberi kekuatan dalam karya manusia,” kata mahasiswa Semester VI pada STFK Ledalero ini.
Fr. Selo menjelaskan teater ini dibuat dalam rangka peringatan 100 tahun karya para Suster SSpS di Indonesia. Karena itu, teater ini bertujuan untuk mengajak semua orang, baik biarawan/biarawati maupun kaum awam, untuk merefleksikan keberadaan dan karya SSpS, selama 100 tahun ziarahnya di Indonesia.
“Teater ini mengisahkan perjuangan para misionaris perdana SSpS yang tiba di Lela untuk menghidupkan semangat misi di tengah berbagai tantangan pada masa itu. Mereka sungguh-sungguh dan secara total mengabdikan hidupnya bagi karya kemanusiaan dan pelayanan mereka kala itu. Semangat misionaris perdana ini, tidak boleh padam, melainkan harus senantiasa dihidupi oleh generasi masa kini,” kata Fr. Selo.
Para aktor pemeran Teater 'Menjaga Api' sedang
mendengarkan pengarahan awal sebelum memulai latihan.
Teater ini juga, kata Fr. Selo, berkisah tentang situasi umat Lela sebelum kedatangan para suster misionaris perdana, situasi masa kini yang menjadi latar dari karya pelayanan SSpS saat ini, dan berbagai tantangan dalam karya pelayanan SSpS di masa mendatang. “Teater ini adalah sebentuk refleksi bersama untuk bercermin diri,” kata Fr. Selo.
Fr. Tonny Goran SVD, salah satu aktor dalam teater ini, mengungkapkan sejauh ini persiapan untuk pementasan teater ini sudah berjalan dengan baik. Teater ini, kata mahasiswa semester IV STFK Ledalero ini, akan dipadukan dengan tarian-tarian dan lagu-lagu daerah.
“Sebagai seorang anggota SVD, saya senang bisa terlibat dalam teater ini, guna memaknai perjalanan 100 tahun SSpS di Indonesia. Semoga teater ini bisa menjadi bahan refleksi bersama,” kata Frater asal Adonara ini.

(Kristo Suhardi)

29 Frater Kembali dari Tempat TOP

Fr. Hendra Ragha, SVD
seminariledalero.org - Sebanyak 29 frater yang baru saja menyelesaikan masa TOP (tahun orientasi pastoral) telah kembali dari tempat praktik masing-masing dan bergabung lagi menjadi anggota Komunitas Seminari Tinggi St Paulus Ledalero. Para frater yang selama 1,5 tahun berada di tempat praktik ini memulai kembali kegiatan mereka di Ledalero sejak Rabu (4/1/2017) pagi.
Disaksikan Seminariledalero.org, para frater ini menempati Unit St Fransiskus Xaverius yang memang dikhususkan bagi mereka yang baru menyelesaikan masa praktik. Mereka akan tinggal di sana hingga mengikrarkan kaul kekal pada bulan Agustus mendatang, sambil menjalankan masa pembentukan yang disebut masa probasi (novisiat kekal).
Beberapa frater probanis yang sempat ditemui Seminariledalero.org pada Rabu (4/1/2017) pagi mengungkapkan kegembiraan hati mereka saat bergabung kembali dengan sesama anggota Seminari Tinggi Ledalero. Perpisahan selama 1,5 tahun telah melahirkan rindu tersendiri terhadap rumah formasi Ledalero.
“Saya merasa gembira kembali ke komunitas ini karena bisa bertemu kembali dengan seluruh anggota komunitas dan teman-teman seangkatan. Selama satu setengah tahun kami tidak pernah bertemu secara langsung, hanya berkomunikasi lewat media sosial,” kata Frater Hendra Ragha SVD, mantan TOP-er SMAK Syuradikara Ende.
Pengakuan yang sama juga diungkapkan Frater Nastan Amtesa, SVD. Menurut frater yang menghabiskan masa praktik di SMK St Yosef Nenuk-Atambua ini, kegembiraan tersebut terutama dirasakan melalui banyaknya pengalaman masa TOP yang dibagikan di antara sesama probanis.
Sementara itu, mantan frater TOP di Pondok Pesantren Walisanga Ende, Frater Yosef Nenat SVD kepada Seminariledalero.org menuturkan niatnya pada masa probasi ini.
“Saya ingin memanfaatkan masa probasi ini untuk merefleksikan panggilan hidup saya. Sehingga pada akhirnya, saya bisa mengambil keputusan entah terus bertahan atau mengakhiri panggilan saya sebagai calon imam,” katanya.
[Frater Yovan Rante, SVD]

Tuesday, January 3, 2017

Mengenal Kelompok Minat Frater Ledalero (I)



Minat teater

seminariledalero.org - Para frater yang saat ini menghuni komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero umumnya memililki bakat dan keterampilan tertentu. Ada frater yang terampil dalam dunia teater, sastra, musik, hingga lukis. Untuk mewadahi bakat-bakat potensial seperti ini, maka terbentuklah beberapa kelompok minat. Masing-masing kelompok minat didampingi oleh seorang Pastor sebagai moderator. Berikut redaksi seminariledalero.org tampilkan profil singkat dari beberapa kelompok minat yang ada di Ledalero. Bagian pertama ini akan memperkenalkan Aletheia dan L’Arts.
Kelompok Minat Teater Aletheia
Cikal bakal kelahiran Kelompok minat teater Aletheia bermula dari bincang-bincang lepas Pater Budi Kleden, SVD, seorang dosen yang memiliki minat yang tinggi di bidang seni dan budaya, dengan Fr. Erno Bhegu, SVD (Ketua Sema STFK Ledalero periode 2003/2004), Fr. Puplius Meinard Buru, SVD (sekarang misionaris di luar negeri), Fr. Johan Wadu, SVD (sekarang anggota Provinsi Ende) dan Fr. Hironimus Huku Lejap, SVD.
Dari perbincangan ini mulailah dikumpulkan orang-orang yang memiliki minat dan bakat pada dunia teater, baik sebagai penulis naskah, crew perbengkelan maupun yang berperan di atas pangung. Kelompok ini pada mulanya masih menggunakan nama warisan, yakni Teater Seru. Tentang hal ini, Pater Pice Dori, SVD, mantan moderator Teater Aletheia, menyebut nama Alm. Pater Primus Juki, SVD, sebagai orang yang memiliki peran penting dalam Teater Seru.
Dalam perkembangan lebih lanjut, atas usul Pater Feliks Baghi, SVD, dan pertimbangan seluruh anggota, kelompok ini memiliki eksistensi yang otonom. Kelompok yang berdasar pada minat ini mesti terlepas dari seksi seni budaya Ledalero. Pada 5 Oktober 2004, kelompok minat ini berubah nama menjadi Teater Aletheia. Saat ini kelompok minat ini diketuai oleh Fr. Mario Nuwa, SVD.
Kelompok minat Teater Aletheia umumnya dikenal luas di Kota Maumere, berkat aksi pementasan teater yang mereka sajikan, baik pementasan di komunitas Ledalero maupun di luar komunitas. Beberapa agenda rutin tahunan yang dibuat oleh kelompok minat ini adalah pementasan teater pada akhir tahun dan tablo pada Jumat Agung. Pementasan lain juga dibuat di luar agenda rutin ini, sangat bergantung pada momen yang hendak dirayakan, misalnya pada saat pesta SVD dan SSpS, dies natalis STFK Ledalero, pementasan bersama kelompok minat lain, juga pada momen-momen lain.
Semua naskah teater yang dipentaskan merupakan karya asli para frater yang tergabung dalam kelompok minat ini. Naskah terakhir yang dipentaskah adalah ‘Inersia’ karya Fr. Harris Meo Ligo, SVD, pada Sabtu, 31 Desember 2016. Anggota kelompok minat ini bukan hanya para frater, tetapi terbuka juga untuk anggota lain di luar komunitas Ledalero yang memiliki minat dan bakat pada dunia teater.
Ledalero Arts (L’Arts)
Ledalero Arts, atau yang populer dengan nama L’Arts merupakan kelompok minat yang dihuni oleh para frater yang memiliki minat dalam dunia lukis. Keberadaan kelompok minat ini, awalnya digagas oleh Fr. Fian Vuka, SVD (saat ini menjadi misionaris di Portugal) pada Agustus 2013 untuk menjadi wadah bagi para frater yang memiliki minat dan bakat dalam dunia lukis.
Ledalero memang dihuni oleh sejumlah frater yang punya bakat dalam dunia lukis. Penampilan perdana L’Arts bertepatan dengan perayaan puncak 100 tahun SVD hadir di Indonesia. Kala itu L’Arts menyelenggarakan pameran selama sepekan. Pameren  yang murni menyajikan lukisan karya para frater ini, mendapat apresiasi dan tanggapan yang positif dari berbagai pihak. Sejak saat itu, L’Arts mendapat ruang tersendiri di hati para penikmat seni lukis, baik di kalangan internal Ledalero maupun dari luar komunitas Ledalero.
Hingga saat ini, L’Arts telah beberapa kali menyelenggarakan pameran, antara lain pameran di aula SMA Baktiarsa Maumere, pameran selama dua hari bertepatan dengan momen tahbisan imam 2015 di Ledalero, dan mengambil bagian dalam pameran Serupa Maumere. Penyelenggaran pameren seperti ini, membuat L’Arts yang sudah berusia 3 tahun begitu dikenal di Ledalero dan Maumere umumnya.
Hampir semua anggota L’Arts tergabung dalam seksi Dekorasi Komunitas Seminari Tinggi Ledalero. Saat ini kelompok minat ini diketuai oleh Fr. Andrew Parera, SVD dan dimoderatori oleh P. Agus Senda, SVD. Keanggotaannya pun terbuka untuk semua orang, bukan hanya untuk para frater tetapi juga terbuka untuk para peminat seni lukis yang berada di luar komunitas Ledalero.

(Kristo Suhardi, diolah dari berbagai sumber)

Frater Ledalero Terlibat dalam Acara 100 Tahun SSpS

Pater Ito  Dhogo, SVD
Seminariledalero.org - Para frater Seminari Tinggi St Paulus Ledalero terlibat dalam aneka kegiatan menyongsong acara 100 tahun SSpS Indonesia yang berpuncak pada Jumat (13 Januari 2017) mendatang. Keterlibatan para frater ini menjadi salah satu tanda dukungan bagi suksesnya perayaan syukur kongregasi suster yang sama-sama didirikan St Arnoldus Janssen tersebut.
Prefek Koordinator Seminari Tinggi St Paulus Ledalero Pater Ito Dhogo SVD kepada Seminariledalero.org mengatakan keterlibatan para frater ini pertama-tama didasari oleh pendiri yang sama antara SVD dan SSpS. Selain itu, keterlibatan ini juga menjadi tanda dukungan antarsesama kongregasi religius dalam Gereja.
“Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa prinsip persatuan senantiasa ditekankan dalam seluruh karya misi Gereja. Meskipun ada aneka kongregasi dengan spiritualitas berbeda-beda, kita selalu mengusung misi yang sama yakni membawa sukacita Kristus bagi semua orang,” katanya di Ledalero, Selasa (3 Januari 2017).
Pada konteks yang lebih luas, lanjut Pater Ito, keterlibatan SVD juga mengungkapkan kegembiraan seluruh anggota Gereja terhadap momen berahmat ini. Usia satu abad dalam karya misi SSpS di Indonesia merupakan berkat Allah yang patut disyukuri Gereja.
Sementara itu, Ketua Panitia 100 Tahun SSpS Indonesia Suster Thomasin Beding, SSpS baru-baru ini mengatakan panitia perayaan merasa bersyukur atas keterlibatan para frater dari komunitas Ledalero. Pada konteks yang lebih luas, lanjut dia, keterlibatan ini merupakan bentuk dukungan SVD terhadap karya misi SSpS.
“Terima kasih atas keterlibatan para frater, bruder dan pater, dari Komunitas Ledalero. Bantuan yang kalian berikan sangat besar artinya dalam menyukseskan acara 100 tahun SSpS,” kata Suster Thomasin.
Disaksikan Seminariledalero.org, keterlibatan para frater ini meliputi hampir semua seksi dalam struktur kepanitiaan perayaan. Selain itu, para frater juga terlibat dalam kegiatan kerja fisik, teater, kor dan lain-lain.

[Frater Yovan Rante, SVD]

Monday, January 2, 2017

Unit Agustinus Juarai Lomba Kandang Natal

Dua anggota Unit St. Agustinus Fr. Randy dan
Fr. Sefny sedang menghias pohon natal.
Seminariledalero.orgUnit St Agustinus sukses menjuarai lomba pembuatan kandang natal tahun 2016 yang diselenggarakan Seksi Dekorasi Seminari Tinggi St Paulus Ledalero. Unit Agustinus mampu mengatasi tantangan membuat kandang natal dari lima unit fratres lainnya di Ledalero, usai mengumpulkan nilai sebesar 300.
Para Frater dan beberapa umat pose bersama di depan
 kandang natal unit Agustinus usai misa malam natal.
Penetapan juara ini diumumkan tim juri Frater Ferer Dede SVD, Frater Purnawan Budiarti SVD dan Frater Floriano Suninono SVD pada acara pergantian tahun di aula St Thomas Aquinas Ledalero, Sabtu (31 Desember 2016) malam. Tim juri juga menetapkan Unit Mikhael sebagai juara II (nilai 290), Unit Rafael juara III (nilai 280). Sedangkan posisi IV, V dan VI berturut-turut ditempati Unit St Yosef Freinademetz, Unit St Arnoldus Janssen dan Unit St Gabriel.
Berkenaan dengan hasil juara tersebut, ketua tim pembuatan kandang natal Unit St Agustinus Frater Yoko Koting, SVD mengatakan dirinya bersama seluruh anggota Unit St Agustinus merasa sangat berbangga. Menurut Frater Yoko, kesuksesan ini merupakan hasil kerja sama seluruh anggota unit.
“Kami coba mengungkapkan semangat hidup berkomunitas melalui pengerjaan kandang natal ini. Ada yang menyumbang ide, ada yang mengerjakan kandang, ada yang membuat pohon, ada yang bertugas memberikan penjelasan teologis kepada tim juri, dan sebagainya. Semua bekerja menurut potensi diri masing-masing,” katanya.
Menurut Frater Yoko, konsep dasar yang melatarbelakangi pengerjaan kandang natal tersebut adalah pemanfaatan sampah. Oleh karena itu, bahan-bahan yang digunakan umumnya berupa sampah.
“Selain itu, kami mau melukiskan komitmen keberpihakan Yesus kepada orang-orang hina dina yang sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Orang-orang tersebut misalnya penyintas HIV/AIDS, orang dengan gangguan jiwa, korban perdagangan manusia, dan sebagainya. Yesus, Tuhan yang kami ikuti, telah sudi lahir di tengah orang-orang seperti itu, maka kami juga mesti berpihak pada mereka,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Seksi Dekorasi Seminari Tinggi St Paulus Ledalero yang juga menjadi salah satu tim juri Frater Floriano Suninono, SVD mengatakan lomba ini diadakan atas beberapa pendasaran. Pendasaran-pendasaran tersebut antara lain sebagai bentuk pemaknaan terhadap natal, momen pengembangan kreativitas para frater dan momen membangun kerja sama para frater.
“Kami melihat bahwa program yang kami adakan ini bukan sekadar lomba, melainkan momen refleksi dan pengembangan diri. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah melibatkan diri dalam lomba ini, khususnya para pater dan frater,” kata Frater Floriano.
Disaksikan Seminariledalero.org, kandang natal yang dibuat para frater ini memiliki keunikan masing-masing sesuai dengan tema yang hendak disampaikan. Namun umumnya tema yang diangkat adalah hasil refleksi atas rekomendasi Kapitel Provinsi SVD Ende XII, yakni keberpihakan pada penyintas HIV/AIDS dan perdagangan orang (human trafficking). 

[Frater Yovan Rante, SVD]

Sunday, January 1, 2017

Tutup Tahun, Aletheia Pentaskan “Inersia”

Fr. Ricky Kasa, SVD
 seminariledalero.orgKelompok minat teater para Frater Seminari Tinggi Ledalero Aletheia mementaskan teater tanpa kata berjudul “Inersia” pada malam tutup tahun di aula Santo Thomas Ledalero, Sabtu (31/12). Teater singkat berdurasi 20 menit ini merupakan hasil karya Fr. Harris Meo Ligo, SVD dan disutradarai secara bersama oleh Fr. Harris Meo, Fr. Selo Lamatapo SVD (ketua Aletheia) dan Fr. Venan Meoliyu, SVD.
Inersia,  menurut pengakuan pemeran utama Fr. Ricky Kasa SVD, menggambarkan situasi manusiawi yang senantiasa berada dalam dua dimensi, antara kedukaan dan kegembiraan. “Kita selalu berada pada dua sisi itu. Manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan sisi mana yang ingin ia perjuangkan,” kata Fr. Ricky.
Salah satu adegan dalam teater berjudul "Inersia".
Selain Fr. Ricky, pemeran lain dalam teater ini adalah Fr. Anno Manek SVD Maria Selviana, ditambah lima pemera pembantu. Sementara para pemain musik yang mengiringi seluruh alur teater ini terdiri atas Fr. Maria DE Kali SVD (biola), Fr. Ito SVD(organis), Fr. Julio van Huller SVD (gitaris), Fr. Rano Mere SVD dan Fr. Harris Meo SVD (penabuh drum) dan Fr. Bimbo Svd (penabuh gendang). Proses latihan untuk persiapan pentas ini dijalankan selama empat kali.
Disaksikan seminariledalero.org, teater tanpa kata ini berhasil menyedot perhatian dari anggota komunitas Ledalero dan puluhan undangan lain yang merayakan penutupan tahun bersama anggota Komunitas Ledalero. Hal ini tampak dalam keseriusan dan kesungguhan para penonton menyaksikan setiap gerak yang dipertontonkan oleh para pemeran teater.
Seorang penonton Joannie Grabowski, yang ditemui seminariledalero.org usai pementasan, mengungkapkan kekagumannya atas teater tanpa kata ini. Teater ini, katanya, telah membantunya untuk merefleksikan kembali perjalanan hidupnya sepanjang tahun 2016. “Ada banyak makna yang bisa dipetik dari teater ini,” katanya.
Selain teater, upacara tutup tahun bersama ini diisi dengan renungan singkat yang dibawakan oleh Fr. Yovan Rante SVD. Fr. Yovan dalam renungannya mengajak semua anggota komunitas Seminari Ledalero untuk mengingat kembali dan memaknai secara baru beberapa momen penting yang terjadi sepanjang 2016 di Bukit Ledalero. Usai renungan, anggota Dewan Rumah Ledalero Pater Bernard Boli Ujan SVD, memberikan berkat penutup akhir tahun.
Sebelumnya, dalam khotbah pada perayaan ekaristi penutup tahun di Kapel Agung Ledalero, Pater Boli mengajak semua anggota komunitas untuk menyongsong tahun baru dengan penuh rindu. Tahun yang baru, kata Pater Boli, mesti diisi dengan perbuatan cinta kepada sesama. Ekaristi penutupan tahun ini dimeriahkan oleh paduan suara dari Unit Santo Agustinus.

(Kristo Suhardi)

Umat Katolik Perlu Meneladani Maria

Pater William Burt, SVD
seminariledalero.org - Setiap umat Katolik semestinya tidak hanya menghormati kesucian Bunda Maria, melainkan juga meneladani seluruh kebajikan hidupnya. Bunda Maria adalah model bagi umat Katolik tentang bagaimana sesungguhnya menunjukkan ketaatan kepada kehendak Allah.
Pernyataan ini disampaikan Pater William Burt, SVD dalam kotbahnya pada perayaan ekaristi Hari Raya Maria Bunda Allah yang dirangkaikan dengan ekaristi pembukaan tahun baru, Minggu (1 Januari 2017). Pada perayaan yang diadakan di Kapel Agung  Ledalero ini, Pater Bill didampingi Pater Bernard Boli Udjan SVD, Pater Kanis Bhila SVD dan Pater Alfons Betan SVD.
Hadir dalam perayaan ekaristi dengan tema Per Mariam Ad Jesum ini segenap frater, karyawan-karyawati, dan puluhan umat dari luar komunitas Seminari Tinggi Ledalero. Perayaan dimeriahkan kor dari Unit St Yosef Freinademetz, sedangkan tugas liturgi ditanggung para frater dari Unit St Gabriel.
Menurut Pater Bill, Maria adalah seorang perempuan sederhana dan sama sekali bukan orang penting pada zamannya. Namun, untuk mengerjakan karya keselamatan besar berupa penebusan dosa seluruh umat manusia, Allah justru memilih Maria untuk menjadi ibunda Putra-Nya.
“Maria adalah orang pilihan Allah, kita semua juga adalah orang-orang pilihan Allah. Maka marilah kita, pada momen tahun baru ini, membangun niat untuk mengikuti teladan hidup Maria, Bunda Allah, agar kita menjadi semakin dekat dengan Allah” katanya.
Pada bagian lain kotbahnya, Pater Bill juga mengungkapkan bahwa Allah hadir dalam kehidupan manusia bukan melalui cara-cara yang luar biasa, melainkan dalam hal-hal biasa. Allah lebih banyak memilih hadir melalui keseharian hidup manusia, melalui hal-hal sederhana dan terkesan sepele.
Untuk itu, lanjut Pater Bill, bersamaan dengan momen tahun baru ini, umat Katolik dianjurkan supaya lebih peka terhadap tanda-tanda kehadiran Allah. Kepekaan inilah yang pada akhirnya sanggup mendekatkan diri manusia dengan Allah.
Sementara itu, beberapa frater yang diwawancarai Seminariledalero.org  seusai perayaan ekaristi menyebutkan beberapa niat dan harapan mereka pada  tahun 2017 ini. “Saya berniat untuk semakin disiplin dan sanggup mengembangkan potensi diri yang saya miliki,” kata Frater Erson Regi, SVD.
“Saya berniat supaya lebih setia menghayati kaul-kaul kebiaraan, membarui semangat doa dan selalu menjaga keharmonisan dalam hidup berkomunitas. Saya yakin Tuhan akan menuntun saya mewujudkan niat-niat ini,” kata Frater Arsel Klau, SVD.

[Frater Yovan Rante, SVD]