Friday, October 7, 2016

USKUP SENSI BERKATI PERALATAN LITURGI LIMA DIAKON

Para Diakon yang menerima Tahbisan
Di Ledalero 8 Oktober 2016
seminariledalero.org - Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr memberkati peralatan liturgi kelima diakon yang akan ditahbiskan menjadi imam pada Sabtu (8 Oktober 2016) besok, bertempat di Kapel Agung Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, Jumat (7 Oktober 2016) petang. Upacara pemberkatan peralatan liturgi ini dikemas dalam Ibadat Sabda yang dilanjutkan dengan Salve Agung.
Bapak Uskup Agung Ende
Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr
Hadir mendampingi Uskup Sensi dalam upacara ini Rektor Seminari Tinggi St Paulus Ledalero Pater Kletus Hekong SVD dan Moderator Seksi Liturgi Pater Ignas Ledot, SVD. Turut hadir Provinsial SVD Ende Pater Leo Kleden SVD, kelima diakon masing-masing Diakon Agustino Gusty Horowura SVD, Diakon Yoseph Riang SVD, Diakon Saverius Susanto SVD, Diakon Vinsensius Ngganggur SVD dan Diakon Samuel Sori Wekin SVD, keluarga para diakon, serta segenap anggota Komunitas Seminari Tinggi St Paulus Ledalero.
Disaksikan Seminariledalero.org, upacara pemberkatan peralatan liturgi ini dilangsungkan setelah pembacaan Injil dan homili singkat yang dibawakan Pater Kletus Hekong SVD. Peralatan liturgi yang diberkati itu ialah kaliks, patena, korporale, pala, kain kaliks dan busana liturgi imam.
Uskup Sensi, dalam salah satu doa yang dipanjatkannya, antara lain memohon agar melalui upacara tersebut para diakon dan seluruh umat yang hadir semakin menyadari arti panggilan masing-masing. “Supaya kami sanggup memelihara dan merawat kesucian diri dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ungkapan rasa hormat kami kepada-Mu” doa Uskup Sensi.
Sementara itu, Pater Kletus Hekong SVD dalam Kata Pengantar yang disampaikannya menegaskan pakaian liturgi dimaksudkan untuk menunjukkan perbedaan tugas antara hirarki dan awam. Seraya mengutip Pedoman Umum Misale Romawi 335, Pater Kletus menambahkan bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus dengan pembagian tugas yang berbeda-beda.
“Dalam perayaan Ekaristi, tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis,” kata Pater Kletus.
Sambil merefleksikan teks Yohanes 15:9-17, Pater Kletus dalam homilinya menegaskan bahwa terdapat hal yang lebih penting dari pembagian tugas dan busana-busana liturgis yaitu semua umat Allah – hirarki dan awam – mesti tinggal dalam kasih Yesus. Kesetiaan dan komitmen untuk tinggal dalam kasih Yesus, lanjut Pater Kletus, melahirkan efek-efek tertentu.
“Tinggal dalam kasih Yesus dan menjalankan perintah-perintah-Nya akan melahirkan empat efek yakni sukacita yang sempurna, saling mengasihi, menjadi sahabat Yesus dan kerelaan untuk menerima tugas yang dipercayakan. Mari kita berdoa dan berjuang untuk tetap tinggal dalam kasih Yesus,” katanya.

Frater Yovan Rante, SVD

Thursday, October 6, 2016

MENGENANG FR. SAN: TAHBISAN IMAM DI SURGA

 Oleh: Fr. Krispinus Ibu, SVD

Alm. Frater San Kean, SVD
“1”
ia meletakkan kenangannya/ dengan sangat hati-hati/ di laci meja dan menguncinya/ memasukkan anak kunci ke saku celana/ sebelum berangkat ke sebuah kota/ yang sudah lama hapus/ dari peta yang pernah digambarnya/ pada suatu musim layang-layang/
“2”
tak didengarnya lagi/ suara air mulai mendidih/ di laci yang rapat terkunci
“3”
ia telah meletakkan hidupnya/ di antara tanda petik
(Sapardi Djoko Darmono “Melipat Jarak-Sepilihan Sajak”)
*** *** ***
Namanya San. Lengkapnya Robertus Rita Kean. Kami biasa menyapanya Ka’e San atau San. Ia lahir di Larantuka-Lebao, 14 Mei 1987. Badannya kecil. Rambutnya lurus menandakan tak ada kepalsuan dalam dirinya. Orangnya disiplin dan tegas, tetapi ia adalah pribadi yang lugas.
Hari-hari hidup dilaluinya dengan senyum dan tawa seolah-olah tidak ada sesuatu pun beban dalam hidupnya. Dari situ kami bisa ‘membaca’ bahwa ia adalah tipe orang ramah dan mudah bergaul. Tak hanya itu, ia juga suka membantu kami yang memerlukan bantuannya. Ia tidak pernah menolak apa yang kami minta. Bahkan untuk dirinya sendiri, ia terkadang mendapat ‘waktu sisa’ karena hari hidupnya diisi dengan membantu orang lain.
Suatu waktu di kamar makan setelah jam makan, ia hendak pulang ke kamar dan melanjutkan pengerjaan tesisnya, tetapi saya meminta bantuannya untuk mengoreksi tugas yang diberikan oleh dosen. Ia tidak menolak permintaan itu tetapi mengabulkannya dengan hati yang lapang dan sudah pasti dengan senyum kegembiraan.
Hari-hari hidupnya bagaikan Roti dan Anggur yang diberikan kepada sesama. Ia tak mau melihat orang lain ‘haus’ dan ‘lapar’. Ia tahu bahwa ia hadir di dunia ini untuk memberi. Memberi kepada sesama dan konfrater apa yang mereka butuhkan. Apa yang bisa ia buat, ia lakukan; apa yang tidak bisa dilakukan, ia tidak hilang akal dan putus asa melainkan mencari jalan keluar yang bijaksana.
Ia tinggal di unit St. Mikhael, salah satu unit binaan di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Unit membanggakan yang selalu menghidupi spirit malaikat agung St. Mikhael: tangguh dan tak pernah putus asa. Malaikat agung St. Mikhael jugalah yang menginjak kepala setan dan mengalahkan setan.
Spirit malaikat agung St. Mikhael ini, Ka’e San jalankan dalam kesehariannya. Ia adalah tipe orang yang tangguh. Ia pun ‘menginjak setan’ kesusahan yang ada dalam diri orang lain, sehingga kehadirannya membawa nuansa tersendiri yang tentunya menghibur orang yang susah. Buluh yang terkulai tidak diputuskan olehnya. Sumbu pelita sesama yang hampir padam, menjadi terang oleh kehadirannya. Ia bagaikan penyegar di saat dahaga dan penuntun di tengah hutan belantara.
Pada suatu kesempatan Minggu Panggilan di Paroki Nebe (Maumere Timur), kami (saya, Ka’e San dan Fr. Patrisius Haryono, SVD) mendapat tugas di salah satu Kelompok Umat Basis (KUB). Ia tidak terlihat kaku di Kelompok Basis dan tempat yang baru ia kunjungi itu. Ia tidak melihat kemudahan sebagai syarat untuk mewartakan Injil, melainkan selalu berprinsip dan melihat tantangan sebagi peluang misi. Ia akan berusaha sekuat tenaga ketika berada di tengah ‘himpitan’ zaman, untuk ‘tumbuh’ dan ‘berbuah’.
Ia tidak mengajar kami (saya dan Fr. Patrisius Haryono, SVD) bagaimana ‘live-in’ di tengah umat melalui teori-teori, melainkan teladan dan praktik hidup. Ia juga mengajarkan bagaimana ‘masuk’ dalam kehidupan dan situasi umat. Kehadirannya menjadi sebuah kegembiraan bagi umat.
Ini disebabkan karena ia tidak ‘duduk di depan’ melainkan ‘duduk di belakang’. Ia melihat dan merasakan langsung kehidupan umat. Ia selalu memperhatikan mereka yang dalam status sosialnya berada di ‘belakang’ dan tidak diperhitungkan. Ia bagaikan orang Samaria yang membantu dan mengobati orang yang terlantar, terluka dan tidak diperhatikan di tengah jalan kehidupan. Ia adalah gambaran SVD sejati yang menghidupi spirit passing-over di tengah umat.
Ia cepat akrab dengan umat. Ketika ia datang, ia ‘langsung menuju ruang belakang dari setiap rumah’. Ia tidak mau sesuatu yang bersifat formal ketika berada di tengah umat.
Begitulah hari-hari hidup yang dijalani oleh Ka’e San. Bagai roti yang dipecah-pecahkan demi sesama. Selain itu, hidupnya bagai lilin bernyala yang rela dibakar demi menerangi orang lain. Ia sungguh melihat sesama sebagai pancaran imago Dei (citra Allah).
Namun, dari situlah tersirat kekurangannya: ia lupa akan diri sendiri. Ia lupa bahwa setiap manusia pasti rapuh. Tak jarang, ia bahkan tidak memedulikan kesehatannya. Ia terlalu ‘keluar’ dari diri. Ia tidak menyadari bahwa semakin hari kondisi tubuhnya makin menurun.
Malam itu, 23 November 2015, di saat jangkrik tak lagi mengeluarkan suara, saat di mana semua orang pulas dan bermimpi dalam tidurnya, terdengarlah suara dari dalam kamarnya pertanda ia mengembuskan napas terakhirnya.
Ia tidak sempat pamit kepada kami. Ia belum sempat menyelesaikan tesisnya yang sudah sampai pada bab II. Ia pergi saat keluarganya tengah mempersiapkan panitia tahbisan diakon dan imamnya. Ia pergi ketika provinsi SVD Meksiko membutuhkan seorang misionaris yang tangguh. Ia pergi sebelum menyelesaikan tugasnya. Ia meninggal di usia yang masih relatif muda (28 tahun lima bulan). Ia pergi ketika orang-orang masih membutuhkan seorang yang ‘berani keluar dari kemapanan dirinya’. Akhirnya, penegasan Sapardi Djoko Darmono, bergema: “tak didengarnya lagi/ suara air mulai mendidih/ di laci yang rapat terkunci”
Sebuah Refleksi
Pada momen-momen seperti ini kita merasa bahwa kita berada di tengah lautan luas dengan badai yang selalu mengempas kapal diri kita. Momen seperti ini juga iman kita diuji oleh Tuhan: apakah kita masih berharap pada-Nya atau berbalik dan menjauh dari pada-Nya? Bahkan orang malah menggugat Tuhan, bagaimana mungkin seorang yang mau bekerja demi pewartaan Kerajaan Allah, harus mati muda. Mengapa para teroris yang berbuat jahat tidak mati terlebih dahulu? Orang menuntut keadilan kepada Tuhan.
Namun, inilah rahasia misteri Allah yang Mahatinggi yang tak bisa digeluti secara rasional. Kita tidak bisa menggunakan akal sehat kita untuk mengerti Allah yang Tak Terbatas. Tuhan selalu mempunyai rencana tersendiri yang terbaik bagi manusia yang dicintai-Nya. Kita tidak bisa memasukkan ‘air laut’ yang begitu luas ke dalam ‘lubang kecil’ pikiran manusiawi kita. Kita sebaliknya, perlu masuk ke dalam sunyi dan merefleksikannya.
Sebagai manusia yang selalu menerima anugerah Tuhan, kita harus tetap bersyukur kepada-Nya atas kemalangan yang kita alami. Hidup kita harus selalu diwarnai oleh rasa syukur. Bahkan kita pun dituntut untuk terus bersyukur sampai kita lupa apa itu keluhan dan derita.
Ka’e San telah pergi, tetapi spirit perjuangannya masih hidup dalam hati kami anggota Serikat Sabda Allah (SVD). Ia telah pergi tetapi karyanya akan kami teruskan dalam hidup kami sehari-hari. Tepat pada Sabtu, 8 Oktober 2016 nanti, teman-temannya, para diakon, akan ditahbiskan menjadi imam di Ledalero. Kami semua pun yakin, ia akan mendapat tahbisan imam di Surga. Ka’e San, selamat atas tahbisan imammu di surga. ***

Wednesday, October 5, 2016

LIMA DIAKON SVD AKAN DITABHISKAN MENJADI IMAM

  •    Akhir Pekan nanti tepatnya Sabtu 8 Oktober 2016, pukul 16.00 Wita
Para Diakon yang ditahbiskan menjadi iman Oktober 2016
  seminariledalero.org - Lima diakon SVD 
  Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero
  yang berasal dari beberapa wilayah di
  Pulau Flores, Adonara dan Lembata 
  akan ditahbiskan menjadi imam pada 
  Sabtu (8 Oktober 2016), pukul 16.00 
  Wita. Perayaan tabhisan imam yang mengusung tema “Buatlah Aku Mengerti (Mzm.119:144)” ini akan 
berlangsung di Aula Santo Thomas Aquinas Seminari Tinggi Ledalero.
Upacara tabhisan akan dipimpin Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota. 
Kor dan petugas liturgi ditanggung para frater, sedangkan tarian akan ditanggung para 
siswi SMK Kesehatan St Elisabeth Lela dan sebuah sanggar tari dari  Paroki Watublapi.
Berdasarkan laporan yang disampaikan Ketua Panitia Perayaan Tabhisan Imam 2016
sekaligus Ketua Koordinator Fratres Seminari Tinggi St Paulus Ledalero 
Frater Arvin Ea SVD pada Rabu (5 Oktober 2016), saat ini persiapan sudah memasuki
tahap akhir. Aneka bentuk persiapan, dari dapur hingga altar, hampir tuntas dikerjakan.
Lima diakon yang akan ditabhiskan menjadi imam tersebut adalah 
Agustino Gusti Horowuta SVD (Brasil), Yoseph Riang SVD (Timor), 
Samuel Sori Wekin SVD (Nicaragua), Saverius Susanto SVD (Austria), 
dan Vincentius Ngganggur SVD (Paraguay). Kami informasikan pula bahwa pada Sabtu 
(1 Oktober 2016) lalu, 8 diakon dari Seminari Tinggi St Paulus Ledalero asal Pulau
Timor ditabhiskan menjadi imam oleh Mgr. Dominikus Saku, 
di Novisiat SVD Santo Yosef Nenuk. Kedelapan diakon tersebut yakni Vitalis Nustanto 
Atty Loit SVD (Ende), Timoteus Titus Mauk SVD (Zambia), Daniel Meni SVD (Ruteng),
Dominggus Mite Kota SVD (Ende), Nikodemus Moruk SVD (Portugal), 
Selcilius Riwu Nuga SVD (Brasil), Karolus Luangga Tefa SVD (Slovakia), dan 
Marcelinus Tanik SVD (Jawa). 

Oleh Frater Yovan Rante dan Frater Kristo Suhardi

UNIT YOSEF RAYAKAN EKARISTI BERSAMA KOMUNITAS SMAN 2 MAUMERE

Sebagian dari siswa-siswi SMAN 2 Maumere
yang merayakan misa penutupan BKSN 2016
bersama para frater Unit Yosef Freinademetz.
seminariledalero.org - Setelah menjalankan katekese sepanjang September di SMAN 2 Maumere, para frater Unit Yosef Frainademetz mengadakan misa penutupan bersama para guru dan siswa-siswi sekolah tersebut. Misa penutupan katekese yang dipimpin Pater Hendrik Maku, SVD ini berlangsung di aula sekolah tersebut, Jumat (30 September 2016) petang.
Hadir dalam misa ini Kepala SMAN 2 Maumere Hendrikus Sega, para guru, dan siswa-siswi sekolah tersebut. Misa pentupan dimeriahkan kor yang dibawakan para frater Unit Yosef Freinademetz.
Dalam kata pembukanya, Pater Hendrik mengatakan Kitab Suci adalah sumber dan pedoman hidup seorang Kristiani. Karena itu, orang-orang Kristen diharapkan untuk selalu membaca dan merenungkan Kitab Suci setiap hari.
Para frater Unit Yosef Frainademetz merayakan Ekaristi
Penutupan Bulan Kitab Suci Nasional 2016
Bersama siswa-siswi SMAN 2 Maumere.
Sementara itu, Frater Arvin Ea, SVD dalam renungan yang dibawakannya menegaskan Kitab Suci adalah sarana di mana umat beriman dapat mengenal Allah yang tampak dalam diri Putra-Nya Yesus Kristus. Kitab Suci bukan hanya tulisan biasa, melainkan Sabda Allah sendiri.
“Karena berisi Sabda Allah, maka sebagai orang Kristen kita wajib membaca dan merenungkan Sabda Allah itu dalam kehidupan setiap hari. Hanya dengan membaca Kitab Suci maka kita bisa mengerti kehendak Allah dalam hidup kita. Seperti kata St Hieronimus, barang siapa tidak mengenal Kitab Suci, dia tidak mengenal Kristus,” kata Frater Arvin.
Frater Arvin juga mengajak para siswa dan siswi SMAN 2 Maumere untuk menghidupi  Sabda Allah itu dengan bertindak disiplin, rajin ke sekolah, dan belajar dengan tekun.


Frater Har Yanssen

Monday, October 3, 2016

TINGKATKAN KEMANDIRIAN, UNIT GABRIEL GALAKKAN BERBAGAI USAHA

seminariledalero.org - Dalam rangka meningkatkan kemandirian, para frater Unit St Gabriel Ledalero menggalakkan berbagai jenis usaha di unit mereka. Usaha-usaha kemandirian ini meliputi budidaya sayur-mayur, pengolahan kopra dan peternakan babi.
Seperti disaksikan seminariledalero.org pada Sabtu (1 Oktober 2016) sore, seluruh anggota unit Gabriel tampak mencangkul sebidang tanah di belakang unit. Pekerjaan ini dilakukan dalam rangka menyediakan lahan untuk ditanami beberapa jenis sayuran seperti sawi putih, singkong dan lombok. Penanaman sayur, seperti dikatakan penggagas kegiatan Frater Moses Ega Loma, SVD bertujuan agar para frater dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan sendiri
Selain bergiat pada budidaya sayur, para frater juga menggeluti usaha pengolahan kopra. Hasil pengelolaan kopra ini menjadi salah satu sumber utama pemasukan bagi kas unit. Dari bidang ini, setiap bulan para frater mendapat pemasukan paling sedikit Rp150.000,00.
Terkait peternakan babi, para frater Unit Gabriel sedang dalam proses pembangunan kandang baru. Dalam waktu dekat, para frater berencana akan mendatangkan empat ekor babi, yang nanti akan dipelihara secara bersama-sama oleh segenap anggota unit.
Salah seorang anggota Unit Gabriel, Frater Antonius Moa, SVD ketika diminta pendapatnya terkait usaha kemandirian mengatakan dirinya sangat berharap agar usaha seperti ini tetap dipertahankan. Frater Antonius mengungkapkan usaha kemandirian merupakan bagian dari perwujudan kerja tangan dan latihan menjadi misionaris Serikat Sabda Allah.
Berdasarkan pantauan Seminariledalero.org, antusiasme para frater Unit Gabriel dalam melakukan beberapa usaha kemandirian tergolong tinggi. Para frater tampat bahu–membahu menyelesaikan pekerjaan yang hasilnya nanti akan dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan unit.

Frater Arsen Jemarut, SVD

FRATER LEDALERO WARTAKAN SABDA LEWAT RADIO

Minggu (2 Oktober 2016)
Frater Sensy Balu SVD (kiri) dan Pater Ito Dhogo SVD (kanan)
ketika membawakan program beranda rohani di
Radio Sonia FM Maumere, 
seminariledalero.org - Para Frater Unit Agustinus Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero melakukan kegiatan pewartaan Sabda Allah lewat radio. Program pewartaan yang dikemas dengan nama “Beranda Rohani” ini merupakan hasil kerja sama Unit Agustinus Ledalero dengan Radio Sonia FM Maumere dan Kopdit Mitan Gita Maumere.
Program ini berlangsung pada setiap Minggu sore selama tiga jam (17.00 – 20.00 Wita). Ada dua agenda utama dari kegiatan ini yakni pembacaan kitab suci dan renungan (berdasarkan teks-teks kitab suci pada hari Minggu bersangkutan) dan diskusi bersama yang mengupas tema-tema tertentu yang relevan dengan kehidupan menggereja.
Renungan dibawakan oleh para frater sedangkan sesi diskusi menghadirkan narasumber yang berkompeten sesuai dengan tema yang dikupas (frater, pastor juga umat awam di luar komunitas yang diminta khusus untuk menjadi narasumber). Hingga saat ini, kegiatan pewartaan melalui radio ini mendapat respons positif dari masyarakat pendengar Sonia FM Maumere.
Fr. Roman Thomas, SVD
Moderator Sie Kerasulan Unit Agustinus, Frater Roman Thomas SVD, mengungkapkan kegiatan beranda rohani ini sudah dimulai sejak tahun 2008. Sebelumnya, kegiatan ini merupakan program rutin Unit Vincentius A Paulo Gere, tetapi setelah unit ini dikosongkan dan penghuni unitnya dipindahkan ke Unit Agustinus, program ini menjadi program rutin Unit Agustinus.
“Progam ini merupakan salah satu perwujudan dari matra kerasulan kitab suci dan matra komunikasi dalam SVD. Melalui program ini, kami berusaha untuk mewartakan Sabda dengan memanfaatkan media komunikasi massa seperti radio. Harapannya, program ini mampu menjangkau dan dinikmati oleh banyak orang,” kata Frater yang mengikrarkan kaul kekalnya pada 15 Agustus 2015 ini.
Frater Roman mengharapkan agar para frater benar-benar memanfaatkan kesempatan pewartaan lewat radio ini dengan baik. “Mari kita mengakrabkan diri dengan Sang Sabda. Sebelum kita mewartakan Sabda kepada orang lain, hidup kita sendiri mesti terlebih dahulu dijiwai oleh Sabda Allah,” kata Frater yang mendapat penempatan pertama di Provinsi SVD Ekuador ini.
Sementara Ketua Seksi Kerasulan Unit Agustinus, Frater Randi Kiko SVD, mengungkapkan apresiasinya atas antusiasme dari para frater untuk menjalankan program ini. “Teman-teman sangat antusias dengan program ini. Hal ini terutama ditandai dengan kesiapan mereka untuk mempersiapkan renungan dan materi yang akan dibahas,” kata mahasiswa semester VI pada STFK Ledalero ini.

Frater Kristo Suhardi, SVD

UNIT RAFAEL SELENGGARAKAN SEMINAR “SESAJI DAN DEVOSI”

seminariledalero.org - 
Selasa, 27 September 2016, tepat pukul 18.15 Wita.
Unit Rafael (salah satu unit frater di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero) menyelenggarakan seminar yang mengupas tema “Sesaji dan Devosi: Sebuah Perbandingan Antara Penghormatan Kepada Leluhur dalam Masyarakat Ngadha dan Penghormatan Kepada Orang Kudus dalam Gereja Katolik”.

Pemateri Seminar Fr. Richardus Adrianus Gae, SVD (kiri)
dan moderator Fr. Ferer Dede, SVD.
Seminar unit ini merupakan salah satu program sie akademi unit yang dirancang dalam semester ini.
Pemateri dalam seminar perdana ini adalah Fr. Richardus Adrianus Gae, SVD (mahasiswa semester VII pada STFK Ledalero) dan moderatornya, Fr. Ferer Dede, SVD (mahasiswa semester III Pascasarjana STFK Ledalero). Seminar ini dihadiri oleh seluruh anggota unit St. Rafael termasuk kedua Pater prefek, P. Yosep Keladu Koten, SVD dan P. Ignas Ledot, SVD.
Meskipun berskala unit, namun seminar ini tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan seminar-seminar lain yang melibatkan masyarakat plural. Pemateri dalam pemaparan materinya mengatakan bahwa sesaji sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dalam masyarakat Ngadha sebenarnya memiliki kesamaan dengan devosi yang dipraktikkan di dalam Gereja Katolik.
Tema yang dipersentasikan dan dibicarakan dalam seminar ini merupakan naskah skripsi yang tengah dipersiapkan oleh pemateri untuk meyelesaikan studi program Strata Satunya pada STFK Ledalero. Selain dikenal menaruh minat pada topik sesaji dan devosi ini, Frater Ardus Gae dalam kesehariannya dikenal juga sebagai Frater yang memiliki perhatian istimewa pada musik liturgi.
Seminar ini berlangsung seru. Berbagai pertanyaan informatif dan diskusi diungkapkan penuh antusias oleh para peserta seminar. Moderator juga begitu telaten dan terampil dalam memimpin jalannya seminar ini. Setelah melewati durasi waktu satu setengah jam, seminar ini akhirnya disudahi.
Prefek Unit Rafael, P. Yosep Keladu Koten, SVD di akhir seminar mengatakan bahwa seminar ini merupakan titik awal yang bagus untuk perkembangan hidup komunitas ke depan. “Kita tidak hanya  memupuk communio dalam acara-acara rutin saja, tetapi juga dalam kegiatan-kegiatan akademis seperti ini. Dengan demikian, iklim akademis akan bisa berkembang di unit Rafael ini,” kata Dosen Filsafat pada STFK Ledalero ini.

Fr. Frano Kleden