Sunday, March 5, 2017

Frater Unit St. Rafael Tanam Anakan Mahoni

Seminariledalero.org - Para frater dari Unit St. Rafael bersama beberapa karyawan Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero menanam ratusan anakan pohon mahoni, Sabtu (4/3/2017) pagi. Kegiatan bertemakan upaya melestarikan lingkungan ini berlokasi di sepanjang kebun Unit St. Fransiskus Xaverius, Unit St. Gabriel dan Unit St. Mikhael.
Koordinator dan penyedia anakan mahoni Pater Ignas Ledot SVD mengatakan, penanaman ratusan anakan mahoni ini dibuat dalam rangka mengamalkan perintah Kapitel Provinsi SVD Ende XXII yakni menanam 500 pohon setiap tahun. Semua anggota Komunitas Ledalero, kata Pater Ignas, akan dilibatkan dalam kegiatan penanaman pohon ini.
Sementara itu, Frater Varis Riwu, SVD yang turut serta menanam anakan mahoni tersebut mengatakan penanaman yang dilakukan ini merupakan bukti nyata keterlibatan konfrater di Unit St. Rafael dalam mendukung karya misi SVD. Meskipun tidak semua konfrater bisa hadir, perwakilan dari unit setidak-tidaknya menunjukkan bahwa Unit St. Rafael menaruh perhatian dan turut serta dalam karya nyata SVD.
Berdasarkan pantauan Seminariledalero.org, anakan pohon yang ditanam dalam kegiatan tersebut berjumlah 113 anakan. Dengan demikian, berdasarkan rekomendasi Kapitel Provinsi SVD Ende XXII, masih ada 387 pohon yang mesti di tanam.
“Penghijauan yang menjadi salah satu misi SVD ini sangat baik. Para frater Unit St. Rafael siap untuk menanam lagi,” kata Frater Selo Lamatapo SVD, Ketua Unit St. Rafael.


Penulis Frater Dennis Hayon, SVD 

Komunitas Ledalero Rekoleksi Prapaskah di Kapel Agung Ledalero

Seminariledalero.org - Segenap anggota Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero mengikuti rekoleksi Prapaskah di Kapel Agung Ledalero, Sabtu (4/3/2017) petang. Kegiatan rekoleksi yang bertujuan mengantar segenap anggota Komunitas Ledalero ke dalam refleksi pribadi selama masa puasa ini dipimpin Pater Raymundus Rede Blolong SVD.
Hadir dalam kegiatan ini Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Pater Kletus Hekong SVD, para pastor, bruder, frater, suster dan karyawan-karyawati. Selain itu tampak hadir juga beberapa umat awam dari luar kompleks Seminari Ledalero.
Pater Raymundus dalam renungannya mencoba mengantar segenap umat ke dalam permenungan dengan mengetengahkan tema “Ofisi Kudus: Doa Gereja”, dengan teks referensi dari 1Tesalonika, 5:16–18. Tema ini diangkat  Pater Raymundus karena dirinya menilai bahwa akhir-akhir ini Ofisi Kudus atau yang sering dikenal dengan doa brevir atau ibadat harian terkesan tidak disenangi lagi dalam pelaksanaannya.
Minat terhadap Ofisi Kudus semakin hari semakin menurun karena ada yang menilai ofisi membosankan dan menjenuhkan. Banyak orang tidak mau lagi melaksanakan ibadat harian baik bersama maupun pribadi. Orang mulai menilai ofisi sebagai doa yang tidak relevan, tidak up to date, kaku dan bahkan dianggap kuno. Maka, Orang mulai memakai doa-doa yang singkat, cepat dan dinilai relevan dan up to date,” bebernya.
Pater Raymundus melanjutkan, “kita harus mengimplementasikan kehidupan ofisi menjadi relevan dalam kehidupan kita melalui doa dan kerja. Doa dan kerja adalah dua hal yang menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam doa dan kerja, nama Allah dimuliakan, hidup manusia disucikan dan kerjanya diberkati”.
Menurut Pater Raymundus, hidup kita harus diwarnai dengan sedekah, amal kasih, doa dan puasa. Poin-poin inilah yang bisa kita buat sehingga ofisi yang kita laksanakan menjadi relevan dengan tugas dan karya misioner kita sehingga ofisi itu tidak dinilai lagi membosankan, menjenuhkan, tidak relevan dan tidak up to date.
Semua ini bisa kita wujudkan lewat kehidupan konkret kita baik sebagai pater, bruder, suster, frater dan karyawan-karyawati. Dan saya harapkan supaya kita juga tidak hanya berdoa bagi diri kita sendiri, tetapi di masa puasa ini kita juga harus berdoa bagi samasaudara, keluarga, masalah-masalah sosial dan siapa saja yang meminta doa-doa kita,” katanya.
Pater Lukas Jua SVD selaku Dosen Kitab Suci di STFK Ledalero ketika dimintai komentarnya setelah rekoleksi tersebut menegaskan bahwa dirinya melihat tema yang diangkat oleh Pater Raymundus sangat penting. “Tema rekoleksi kita adalah tentang Brevir atau Ofisi Kudus dan ini tema yang sangat penting. Mengapa penting? Karena Ofisi Kudus atau brevir adalah doa Gereja atau doa umat yang resmi. Karena itu wajib didoakan,” tegasnya.
Pater Lukas Jua, SVD melanjutkan bahwa “sering kali terjadi kesan yang salah di antara umat bahwa Ofisi Kudus hanyalah doa kaum biarawan–biarawati. Oleh karena itu, umat harus diperbiasakan untuk mendaraskan doa-doa dalam Brevir karena Brevir adalah doa resmi Gereja yang wajib dilaksanakan oleh semua umat.
Dua hal penting yang mau saya tekankan agar Ofisi Kudus yang kita laksanakan setiap hari tidak membosankan, yakni pertama, menggunakan peluang pada bagian doa permohonan. Kita sebagai Serikat Sabda Allah (SVD), doa-doa kita harus bersifat misioner. Karena itu, kita harus memasukan dalam doa permohonan peristiwa-peristiwa besar dunia seperti hari HIV/AIDS sedunia, Hari Orang Sakit Sedunia, dan peristiwa lainnya. Praktisnya selama ini terkadang kita lupa akan peristiwa-peristiwa besar itu,” ungkapnya.
 Selanjutnya, hal kedua yang ditekankan Pater Lukas adalah orang harus melihat nilai dari Doa Brevir sehingga orang semakin bersemangat terutama pada Ofisi pagi hari. Karena itu, orang harus mampu untuk melawan godaan untuk tidur lebih lama pada pagi hari.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Harian Biara Simeon Bruder Abraham Teling Tarung, SVD dalam kesan dan pesannya menyampaikan bahwa dirinya merasa senang dengan tema rekoleksi kali ini. Bruder Bram menilai, tema ini sangat relevan dengan situasi yang sedang dialami di Ledalero.
“Akhir-akhir ini orang-orang biara mulai meninggalkan ibadat harian. Andaikata dibuat pun terkesan terburu-buru mendaraskan mazmur agar cepat selesai karena sudah ada janjian dengan orang untuk inbox, telepon atau tugas lainnya yang sudah menunggu. Kalau zaman dulu, orang berdiri di taman-taman dengan memegang Brevir, tetapi sekarang orang lebih suka pegang handphone,” keluhnya.
Bruder Bram berharap pada masa Prapaskah ini segenap warga Ledalero mampu berbenah diri dengan cara mengikuti ibadat harian secara teratur. Segenap anggota komunitas, kata dia, harus menyadari apa yang sedang dibuat, jangan berdoa asal-asalan saja.
Sementara itu, Ketua Seksi Liturgi Unit St. Mikhael, Frater Marthin de Carvalho SVD dalam kesannya setelah mengikuti rekoleksi mengatakan bahwa dirinya cukup tergugah dengan apa yang diutarakan Pater Raymundus.
“Saya sangat tergugah dengan permenungan yang dibawakan oleh Pater Pater Raymundus Rede Blolong, SVD. Saya menilai bahwa ofisi yang kita buat selama ini sepertinya membosan apalagi mazmur-mazmur yang kita daraskan atau nyanyikan hanya dengan pola mazmur yang sama tanpa suatu variasi,” katanya.


Penulis Frater Frid Talan, SVD

Petugas Kesehatan Puskesmas Nita Adakan “Fogging” di Ledalero

Petugas sedang melakukan fogging
Seminariledalero.org - Gabungan petugas kesehatan dari Puskesmas Nita dan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka bekerja sama melakukan fogging (pemusnahan nyamuk melalui pengasapan) di Kompleks STFK dan Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Sabtu (4/3/2017) pagi. Kegiatan pengasapan ini dilakukan sebagai tanggapan terhadap meningkatnya jumlah penderita penyakit demam berdarah (DBD) di Ledalero, khususnya yang dialami para frater.
Deny Natalia, Sanitarian Puskesmas Nita, ketika diwawancarai Seminariledalero.org  di sela-sela kegiatan tersebut mengatakan pihaknya mendapat laporan dari Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka bahwa Ledalero, salah satu wilayah kerja Puskesmas Nita, merupakan tempat yang rawan DBD. Berkenaan dengan itu, pihaknya diperintahkan untuk melakukan pengasapan di wilayah bersangkutan.
“Harapan kami adalah nyamuk-nyamuk bisa dibasmi dan rantai perkembangbiakan jentik-jentik bisa diputuskan. Hanya dengan cara demikian kita bisa menciptakan lingkungan dan pribadi yang sehat,” katanya.
Menurut Deny, salah satu persoalan yang ditemukan timnya di lingkungan Seminari Ledalero adalah banyaknya tumpukan sampah serta genangan air yang tidak meresap ke dalam tanah. Kondisi ini, kata Deny, memungkinkan berkembang pesatnya nyamuk penyebar penyakit demam berdarah.
“Kami mengharapkan peran aktif para frater dan semua anggota komunitas ini untuk menjaga kebersihan lingkungan dan semakin menerapkan pola hidup sehat. Pola hidup sehat itu misalnya mencuci pakaian-pakaian kotor sehingga tidak dibiarkan bergantungan di kamar mandi, istirahat dan olahraga teratur, serta mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih dan bergizi,” tegasnya.
Sementara itu, Prefek Unit St. Agustinus Pater Yosep Kusi SVD kepada Seminariledalero.org mengatakan pihaknya berterima kasih kepada para petugas kesehatan dari Dinkes Sikka dan Puskesmas Nita yang begitu cepat menanggapi penyebaran nyamuk penyebab DBD di Komunitas Ledalero. Menurut Pater Yosep, ada baiknya jika fogging ini dilakukan secara rutin.
“Sebagai bentuk dukungan atas kegiatan ini, kami akan lebih menggiatkan lagi program pembersihan lingkungan di kompleks Seminari Ledalero. Hal yang pertama-tama akan kami benahi adalah sampah-sampah yang masih tertumpuk pada beberapa titik di Ledalero,” katanya.
Disaksikan Seminariledalero.org, para petugas melakukan fogging mulai dari ruangan kuliah sampai dengan unit tempat tinggal para frater dan pastor. Kegiatan fogging ini mereka lakukan pada pagi hari, dan berlangsung lebih kurang selama dua jam.


Penulis: Frater Yovan Rante, SVD

Wednesday, March 1, 2017

Pater Wilhelm Djulei Pimpin Misa Rabu Abu di Ledalero

Pater Wilhelm Djulei Conterius SVD 
Seminarildalero.org - Pater Wilhelm Djulei Conterius SVD memimpin misa Rabu Abu di Kapel Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Rabu (1/3/2017) pagi. Pada perayaan yang menandai dimulainya masa tobat bagi umat Katolik ini, Pater Wilhelm menegaskan arti doa, sedekah dan puasa bagi penghuni Komunitas Ledalero.
Tampak mendampingi Pater Wilhelm dalam perayaan tersebut Pater Ito Dhogo SVD, Pater Bernard Boli Udjan SVD, Pater Frans Ceunfin SVD dan Pater Don Mite SVD. Sedangkan pada panti umat tampak hadir beberapa pastor, bruder, suster, frater, karyawan-karyawati serta umat awam.
“Penandaan dengan abu menjadi simbol tobat dan tanda dimulainya masa Pra-paskah. Kita semua diajak untuk lebih bersungguh-sungguh lagi memaknai doa, sedekah dan puasa,” kata Pater Wilhelm.
Menurut Pater Wilhelm, doa, sedekah dan puasa orang Katolik hendaknya dilakukan secara tersembunyi. Sebab kesalehan, menurut Pater Wilhelm, bukan untuk dipamerkan. Allah Bapa yang berdiam di tempat tersembunyi, akan menyambut doa, sedekah dan puasa yang dilakukan anak-anak-Nya itu.
“Kita sebagai anggota Gereja dan anggota Komunitas Ledalero juga dipanggil untuk mengakrabi doa, sedekah dan puasa ini. Ketiganya mesti dilihat secara baru, agar ibadah yang kita lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus,” katanya.
Menurut dosen Misiologi STFK Ledalero ini, doa seorang Katolik mesti dilakukan dengan tulus, penuh tobat dan kerendahan hati. Doa tersebut, katanya, mesti terhindar dari sikap menyombongkan diri.
“Sedekah merupakan kesempatan bagi kita untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan bantuan kita. Sebagaimana kita sudah menerima banyak kebaikan dari Allah, begitu pula kita wajib melakukan kebaikan kepada orang lain di sekitar kita,” tegasnya.
Sedangkan puasa, lanjut Pater Wilhelm, adalah kesempatan untuk berlatih ketahanan diri dari nafsu tak teratur serta keterikatan pada kenikmatan duniawi. Allah, kata Pater Wilhelm, menginginkan agar anak-anak-Nya mampu menahan diri dari segala macam keterikatan tersebut.
Berdasarkan pantauan Seminariledalero.org, perayaan Rabu Abu ini berlangsung sederhana. Setelah perayaan, para frater melanjutkan aktivitas perkuliahan seperti biasa.


Penulis: 
Frater Yovan Rante, SVD

Kelompok Diskusi Filsafat Kembali Adakan Diskusi Ilmiah

Seminariledalero.org - Setelah vakum selama beberapa tahun,Kelompok Diskusi Filsafat dan Kelompok Menulis di Koran Ledalero (KMKL)kembali mengadakan diskusi ilmiah, Senin (27/2/2017) malam. Diskusi ilmiahini diadakan di Ruang Teologan STFK Ledalero.
Diskusi ini mengangkat tema aktual “Hermeneutika Gadamer dan Fundamentalisme Agama di Indonesia”. Pembicara dalam diskusi ini adalah Frater Har Yansen SVD dan moderatornya Frater Rio Nanto SVD.
Diskusi ini dihadiri oleh anggota KMKL dan juga beberapa simpatisan. Selain itu, hadir juga pendamping KMKL dan Kelompok Diskusi FilsafatPater Otto Gusti Madung SVD.
Dalam makalahnya, Frater Har menyebutkan dua sumbangan hermeneutika Gadamer dalam mengatasi persoalan fundamentalisme agama di Indonesia. Pertama, gagasan Gadamer tentang seni dan teknik memahami memberikan pelajaran berarti tentang perlunya umat beragama membangun dialog yang hidup dan berkesinambungan supaya bisa saling memahami.
Kedua, untuk masyarakat post-sekuler di mana agama-agama berkiprah di ruang publik, respek merupakan sikap yang tepat dalam relasi antara agama, tapi juga dalam relasi antara agama dan akal budi.
Sementara itu, Pater Otto Gusti dalam komentarnya menyampaikan ucapan selamat kepada penggagas dan anggota Kelompok Diskusi Filsafat Ledalero yang sudah menghidupkan kembali tradisi diskusi ilmiah di Ledalero. Keberadaan kelompok diskusi seperti ini, kata Pater Otto, sangat membantu meningkatkan daya berpikir kritis para frater.
“Semoga kegiatan yang telah dimulai pada malam ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan. Jangan pernah malu atau takut dalam menyampaikan pendapat,” katanya.




Penulis:
Frater Wil Lerisam, SVD

Monday, February 27, 2017

Ledalero Gelar Turnamen “Rektor Cup”


Seminariledalero.org - Komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero menggelar turnamen tahunan bertajuk “Rektor Cup”. Turnamen ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Ledalero Pater Frans Ceunfin, SVD dalam upacara pembuka yang berlangsung di lapangan sepak bola Wairpelit, Minggu (26/2). Hadir dalam upacara pembuka ini Prefek Koordinator Pater Ito Dhogo SVD, Pater Bernardus Boli Ujan SVD, dan para frater.
          Berbeda dengan turnamen pada tahun-tahun sebelumnya, Rektor Cup tahun ini tidak hanya menjadi ajang tunjuk kebolehan dari para frater di masing-masing unit dalam cabang sepak bola dan bola voli, melainkan juga ajang unjuk kebolehan dalam hal memasak. Berdasarkan informasi yang diterima seminariledalero.org, para frater, yang diwakili oleh lima frater dari masing-masing unit, juga akan unjuk kepandaian dalam mengolah makanan.
          Pater Frans dalam wejangannya mengungkapkan turnamen Rektor Cup merupakan salah satu kegiatan penting dalam formasi di Ledalero. Dalam komunitas biara, kata Pater Frans, rektor adalah lambang kesatuan, juga tanda bahwa semua anggota biara adalah saudara. “Kalau teman kita bisa cari, tetapi saudara dihadiahkan kepada kita,” kata Pater Frans.
          Pater Frans mengharapkan agar semua frater yang terlibat dalam turnamen ini menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. “Berjuanglah sebaik-baiknya untuk menjadi juara dengan cara yang baik. Berjuanglah dalam semangat persaudaraan,” kata Pater Frans.
          Sementara Wakil Ketua Seksi Olahraga Frater Rian Dajong SVD, usai acara pembuka, mengungkapkan turnamen ini dimaksudkan untuk mempekukuh persaudaraan, baik di dalam unit maupun dengan konfrater dari unit lain. “Hasil akhir pertandingan sangat ditentukan oleh kerja sama dari tim yang bertanding. Karena itu, kerja sama dan kekompakkan sangat penting,” kata mahasiswa Semester VI STFK Ledalero ini.
          Usai upacara pembuka, duel seru tersaji dalam pertandingan perdana yang mempertemukan juara sepakbola Pesfam 2016 Unit Agustinus dan Unit Arnoldus Janssen Nitapleat. Pertandingan yang dipimpin oleh Frater Yanto Lobo, SVD ini berakhir dengan kemenangan telak untuk Unit Agustinus dengan skor 2-0 berkat dua gol yang dilesakkan oleh Frater Ipi Taus, SVD.
          Frater Ipi yang ditemui usai pertandingan mengungkapkan rasa gembiranya atas kemenangan ini. Diakuinya, dua gol yang dilesakkannya merupakan hasil kerja sama apik tim. “Ini merupakan awal yang baik bagi langkah unit Agustinus selanjutnya. Semoga pada pertandingan berikutnya, kami berhasil mempertahankan performa seperti ini,” kata striker Arsenal U-23 ini.  

(fr. Harr Janssen)

Frater Unit Mikhael Rekreasi Kreatif di Waturia

Seminariledalero.org - Sebanyak tiga puluh lima orang Frater Unit St. Mikhael dan satu orang Pater Prefek mengadakan malam rekreasi kreatif di Pantai Waturia – Maumere, Sabtu (25 Februari 2017). Kegiatan malam rekreasi kreatif yang dicanangkan oleh seksi acara Unit St. Mikhael yang bernaung di bawah tema “Bakar” bertujuan untuk memaknai nilai kekompakan dan kerja sama  serta membakar kembali api semangat panggilan hidup setiap frater.
          Acara malam rekreasi kreatif ini dibuka dengan acara pemaknaan atas tema “Bakar” dari lima frater. Selanjutnya acara pembakaran obor oleh pengurus unit, musikalisasi puisi, penarikan undian untuk mata acara yang harus dibawakan oleh setiap frater. Ada acara shering tentang keluarga, shering tentang teman dekat, kronik terhadap salah satu orang anggota unit, bernyanyi dan berbalas pantun. Dan seluruh rangkaian acara malam rekreasi kreatif diakhiri dengan acara api unggun.
Frater Ono menerangkan pemaknaannya atas tema yang dipilih, “Bakar berarti kita harus membakar semak-semak duri kehidupan kita.” Sementara itu keempat frater lainnya menambahkan; Frater Us, “bakar berarti kita harus membakar masa kelam kita.” Frater Riki, “bakar berarti kita harus membakar api panggilan suci kita.” Frater Yono, “bakar berarti kita harus membakar api perjuangan kita yang tengah dijalani.” Frater Anno, “bakar berarti kita harus membakar afeksi kita sehingga semakin matang.”
Prefek Unit St. Mikhael, Pater Petrus Christologus Dhogo, SVD, dalam kesan dan pesannya menjelaskan bahwa ia sangat bangga dengan kreativitas dan bakat-bakat yang diaktualisasikan oleh setiap frater. “Saya sangat bangga atas kreativitas dan bakat-bakat yang kalian aktualisasikan di lembaga formasi ini. Hal seperti inilah yang seharusnya kita lakukan sebelum beralih ke tempat misi,” tegasnya.
Pater Ito Dhogo, SVD menambahkan, “semoga dengan adanya kegiatan ini kalian semua bisa saling memperkaya diri satu sama lain. Semoga kalian juga bisa memahami arti api yang akan kita nyalakan sebentar dalam acara api unggun. Dan kalian harus ingat bahwa kayu-kayu yang digunakan untuk api unggun itu ada yang kecil dan ada pula yang besar. Semua itu menggambarkan diri kita. Ada yang berbadan besar dan ada yang berbadan kecil; ada yang pendek dan ada yang tinggi, tetapi semua itu memberikan kontribusi yang besar untuk sebuah nyala api yang berkobar besar,” katanya.
Frater Riki Dias, SVD ketika dimintai kesan dan pesannya terhadap kegiatan malam rekreasi kreatif yang telah dilangsungkan, menyampaikan bahwa dirinya merasa puas dan senang. “Saya sangat puas dan senang dengan kegiatan ini karena ada kesempatan untuk mengekspresikan diri. Dan saya berharap bahwa kegiatan ini bisa terulang lagi atau dilanjutkan ke angkatan selanjutnya yang akan menghuni Unit St. Mikhael sehingga para frater bisa belajar berekreasi secara produktif.”




Penulis : 
Frater Frid Talan, SVD